Cinta akan rumah-Mu menghanguskan daku

MINGGU PRAPASKA II ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Kejadian 12: 1-4a

Mazmur Tanggapan – Mzm. 33: 4-5. 18-19. 20. 22

Bacaan II – 2 Timotius 1: 8b-10

Bacaan Injil – Matius 17: 1-8

CINTA AKAN RUMAH-MU MENGHANGUSKAN DAKU

“Seturut sabda-Mu kucari wajah-Mu, wajah-Mu kucari, Ya Tuhan. Janganlah wajah-Mu Kausembunyikan daripadaku.” (Mzm.26: 8-9)

Demikianlah antifon pembuka hari ini menghantar kita memasuki perjumpaan dengan Allah dalam Misa Kudus hari ini. Kata-kata pemazmur yang indah ini sebenarnya mengungkapkan kodrat dan tujuan keberadaan kita di dunia ini. Sebagai manusia, kita berasal dari Allah dan pada akhirnya, seturut besarnya cinta kita untuk mencari Dia, kita akan kembali kepada Dia, Sang Pemberi Hidup. Santo Agustinus berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi Diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Allah sendiri telah meletakkan dalam hati kita, suatu kerinduan untuk mencari dan menemukan-Nya. Suatu panggilan suci yang penuh misteri, untuk mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor. Akan tetapi, salah satu kegagalan terbesar para pengikut Kristus, terlebih di masa sekarang ini, adalah kegagalan untuk melihat bahwa Jalan Salib adalah satu-satunya jalan yang menghantar kita untuk mengalami transfigurasi, untuk berubah rupa dan mengalami persatuan sempurna dengan Allah. Kekristenan tanpa salib adalah palsu.  Panggilan untuk menapaki jalan kesempurnaan adalah suatu perjalanan yang harus dilalui dalam tapak-tapak derita, tapak-tapak dukacita dan air mata. Seperti Abram yang dipanggil keluar ke tanah yang dijanjikan Tuhan, kita akan melihat bahwa perjalanan panggilan ini bagaikan suatu perjalanan melewati malam gelap, suatu pendakian gunung rohani untuk masuk dalam awan ketidaktahuan bersama Allah. “Ikutlah menderita bagi Injil Tuhan dengan kekuatan Allah.” (2 Tim.1: 8c)

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Yesus memahami ketidakmengertian dan ketakutan para murid untuk menapaki jalan ini. Karena itulah Dia mengajak para murid untuk mendaki gunung dan beroleh kesempatan memandang Transfigurasi, agar para murid dapat melihat cahaya dan mahkota kemuliaan di balik misteri Salib.

Saudara-saudari terkasih.

Jikalau memang benar demikian adanya, bahwa Tuhan memanggil kita untuk memulai suatu perjalanan yang dipenuhi penderitaan, dukacita, dan kegelapan iman, apa yang menggerakkan tak terbilang banyaknya para kudus di sepanjang zaman untuk berani melangkahkan kaki tanpa keraguan di jalan ini? Para kudus sesudah zaman Gereja Perdana, bukanlah saksi mata langsung akan peristiwa Transfigurasi semulia itu, tetapi toh dalam kegelapan iman yang luar biasa menyedihkan, gelap dan menakutkan, meskipun seolah-olah air laut belum terbelah, mereka memberanikan diri untuk melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam air, dan di tengah angin kencang dan badai bergemuruh, mereka sanggup berjalan di atas air. Apa yang mendorong kegilaan iman untuk mengikuti Tuhan semacam itu?

Cinta…cinta…cinta…cintalah yang mendorong kegilaan merasul mereka…Sang Mempelai telah meninggalkan dalam hati kita sebuah luka cinta, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan luka itu, selain Dia yang telah melukai kita. Bayangkanlah suatu perasaan cinta antara dua orang kekasih yang paling mesra di dunia ini, dan lipatgandakanlah itu beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali. Demikianlah api cinta yang ditimbulkan oleh luka cinta dari Tuhan. Sama seperti Abram dan bagaikan seorang mempelai wanita yang meluap-luap dalam cinta akan Kekasihnya, demikianlah panggilan Tuhan telah memabukkan kita dalam cinta, sehingga kita berlari keluar, layaknya orang gila dalam pandangan dunia ini, meninggalkan segala yang merintangi kita, demi mencari Sang Cinta.

Dan lihatlah betapa luar biasanya kobaran cinta yang dinyalakan Roh Cintakasih itu. Jangankan untuk berkarya bagi Allah, untuk mengisahkan tentang Dia pun sudah membuat hati kita berdebar-debar karena luapan cinta.  Panggilan cinta ini bukanlah suatu panggilan untuk mengabaikan dunia, melainkan suatu panggilan untuk merasul dan menulari semua orang dengan kegilaan cinta yang sama. St. Josemaria Escriva  berkata, “Cintamu sedikit bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan jiwa-jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu. Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia, Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu. Dengan hidup merasul, lenyapkanlah bekas-bekas yang buruk dan kotor yang ditaburkan oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan dunia ini dengan terang Kristus yang kaubawa dalam hatimu.” Jangan meminta diturunkan dari salibmu, tetapi mohonkanlah kekuatan untuk terentang pada salib. Berharaplah kepada Tuhan. “Dialah penolong dan perisai kita.” (Mzm.33: 20b)

Saudara-saudari terkasih.

Saat ini Yesus berbicara kepadamu, “Berdirilah, jangan takut!” (Mat.17: 7b) Sama seperti ketika pertama kali Ia memanggil Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Allah saat ini memanggil engkau tepat di tengah-tengah pekerjaanmu, untuk menjadi “penjala manusia”. Jawablah “Ya” kepada-Nya, hari ini, besok dan sampai selama-lamanya. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah perkerjaanmu, dan kuduskanlah semua orang melalui pekerjaanmu. Inilah panggilan cinta kita, inilah kerasulan kita. Bilamana kita setia, pada senja hidup kita, kita akan mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor, berbahagia selamanya bersama Sang Cinta.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, selalu menyertai kita dengan doa-doanya, serta melindungi kita dalam naungan kasih dan mantol ke-ibu-annya, agar kita bisa mencapai cita-cita rohani ini, sebagaimana dia sendiri telah lebih dahulu menjalaninya dan beroleh mahkota kemuliaan karenanya. “Regnare Christum volumus!”  – “Kami ingin Kristus meraja!” (VFT)

Tinggalkan komentar