ALLAH saja CUKUP!

MINGGU BIASA VIII ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 49: 14-15

Mazmur Tanggapn – Mzm. 62: 2-3. 6-7. 8-9ab

Bacaan II – 1 Korintus 4: 1-5

Bacaan Injil – Matius 6: 24-34

 

ALLAH saja CUKUP!

“Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan dikau.” (Yes.49:15)

Saudara-saudari terkasih.

Di tengah situasi dunia yang dipenuhi berbagai ketidakpastian, peperangan, kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, dan berbagai kejahatan lainnya, dan di tengah kebisingan dunia yang membuat dunia mempertanyakan eksistensi dari Allah Yang Mahakuasa dan Mahacinta, kalimat dari kitab Yesaya ini merupakan suatu hiburan dan kekuatan bagi setiap orang yang percaya. Tuhan tidak pernah berhenti menyayangi umat-Nya. Dunia yang tercipta karena cinta-Nya yang besar, tidak mungkin akan ada dan sudah pasti binasa tanpa Tuhan. Allah senantiasa setia, meskipun umat manusia berulang kali tidak setia. Apabila dunia ini kehilangan keteraturan dan jatuh dalam jurang kegelapan dan ketiadaan cinta, hal itu dikarenakan sama seperti manusia pertama, kitalah yang telah berpaling meninggalkan persatuan cintakasih dengan Allah.

Si jahat telah menaburkan ke dalam hati dan pikiran kita suatu dorongan untuk mencari kepastian bahwa kita sungguh-sungguh dicintai Allah, dan karena kekuatiran akan hal itu, perlahan hati kita mulai tidak berpaut lagi kepada Allah. Daripada menyerahkan hidupnya kepada Allah, sebagian orang mencoba mengandalkan kekuatannya sendiri, yang lain mempercayakan dirinya pada organisasi maupun pribadi yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, malahan ada pula yang bertindak lebih jauh lagi dengan menyerahkan diri untuk menjadi budak dosa dan tawaran si jahat yang menjanjikan kebahagiaan palsu.

Bunda Gereja, yang “kepadanya telah dipercayakan rahasia Allah,” (bdk.1Kor.4:1c) hari ini menyuarakan kembali seruan Yesus, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat.6: 24)

Saudara-saudari terkasih.

Segala kekuatiran manusia semuanya berakar pada kurangnya iman akan penyelenggaraan dan belas kasih Allah. Adalah menarik bahwa Yesus membandingkan hidup kita dengan burung-burung di langit, dan bunga bakung di ladang. Dalam menggunakan perbandingan demikian, kita  hendaknya bijaksana untuk melihat bahwa Yesus tidak bermaksud mengesampingkan pentingnya kerja. Sebab, bila kita sungguh-sungguh melihat, dalam kesehariannya ada proses kerja yang harus dilakukan baik oleh burung di langit maupun bunga bakung di ladang untuk hidup. Akan tetapi, maksud utama Yesus ialah untuk mengingatkan kita bahwa Allah turut bekerja di dalam semuanya itu. Jikalau hewan dan tumbuhan saja dipelihara oleh-Nya, maka sudah pasti Ia lebih lagi memelihara hidup manusia, yang diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya.

Untuk menyadari penyelenggaraan dan belas kasih Allah yang sedemikian besarnya, kita memerlukan iman dan cinta yang besar pula. Kita tidak dapat mengabdi Dia setengah-setengah. Iman dan cinta kepada Allah, haruslah total dan tak terbagi, sebagaimana diungkapkan oleh St. Josemaria Escriva, “Tiada artinya bagiku hati yang mendua, bila kuberikan hatiku akan kuserahkan seluruhnya.” Sikap seperti inilah yang menjadikan kita hamba-hamba Kristus yang sejati, dan juga memberi makna baru dalam segala kerja yang kita lakukan sebagai sarana kekudusan. Sebagai rekan kerja Allah dalam karya penciptaan, kita dipanggil untuk “bekerja segiat-giat-Nya bagi Tuhan semesta alam,” demikian kata Yesaya. Jadikanlah pekerjaanmu sebagai sarana pengudusan diri, pengudusan kerja, dan pengudusan seluruh dunia melalui kerja. Lakukanlah semua itu dengan totalitas dan cinta, tanpa kekuatiran akan hari esok. Janganlah cemas, takut, dan kuatir, sebab di dalam Dia ada kelimpahan rahmat. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-Mu.” (Mat.6:33)

Kiranya Bunda Maria senantiasa menyertai kita dan menghantar kita pada kesadaran bahwa Allah saja Cukup, sehingga dengan demikian kita akan menyadari bahwa doa itu bukan soal meminta melainkan mencinta, dan bahwa Tuhan Yang Mahatahu, akan selalu mencukupkan segala yang kita butuhkan, asalkan kita menjalankan bagian kita untuk percaya, untuk mencinta, dan untuk berkarya bagi-Nya. (Verol Fernando Taole)

Tinggalkan komentar