Bangunlah dan Bercahayalah !

MINGGU PRAPASKA IV – LAETARE ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – 1 Samuel 16: 1-13

Mazmur Tanggapan – Mzm.23: 1-3a, 3b-4, 5, 6

Bacaan II – Efesus 5: 8-14

Bacaan Injil – Yohanes 9: 1-41

Come and be My Light

Bangunlah dan Bercahayalah !

BANGUNLAH DAN BERCAHAYALAH !

Dalam Injil hari ini, kita membaca bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahirnya. Kebutaan adalah suatu keadaan yang sungguh menyedihkan, karena menjadi  buta berarti menjalani hidup dalam kegelapan. Bahkan untuk berjalanpun dan melakukan berbagai aktivitas, mereka memerlukan waktu yang lebih lama, karena harus melakukannya secara perlahan, setapak demi setapak. Oleh karena itu, tergerak oleh belas kasihan atas orang yang buta sejak lahirnya itu, Yesus pun kemudian, dengan cara yang punya kedalaman arti tersendiri, memelekkan mata orang buta itu, sehingga ia dapat melihat.

Tindakan Yesus ini mendapat tentangan dari orang banyak, khususnya orang-orang Farisi, karena Yesus melakukan karya mujizat-Nya pada hari Sabat. Disinilah kita mulai melihat maksud terdalam dari penginjil Yohanes, untuk secara khusus mengisahkan penyembuhan orang buta ini dalam Injilnya. Dengan adanya pertentangan dari banyak orang yang melihat tindakan belas kasih Yesus sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan, kepada kita ditunjukkan bahwa di balik kebutaan fisik yang dijalani oleh orang yang buta sejak lahirnya itu, ada kebutaan yang jauh lebih membinasakan baik tubuh maupun jiwa yang dialami justru oleh orang-orang di sekitar si buta tadi. Melebihi si buta, orang-orang yang yakin bahwa mereka dapat melihat, nyatanya memiliki kebutaan yang jauh lebih gelap, yakni kebutaan rohani. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam.16:7ef) Yesus mengetahui kegelapan isi hati khalayak ramai yang melihat tindakan penyembuhan Yesus sebagai suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.

“Sekiranya buta kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata, ‘Kami melihat,’ maka tetaplah dosamu.” (Yoh.9:41b) Tidak ada kebutaan yang lebih menyedihkan daripada mereka yang menolak untuk melihat. Karena kekerasan hati mereka yang begitu yakin akan kemampuannya untuk melihat, mereka menolak, bahkan memalingkan wajah mereka dari Yesus, Sang Terang Dunia.  Tidak ada dosa yang lebih berat daripada penolakan gerakan Roh yang membimbing kita untuk  melihat dan menanggapi belas kasih Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya.

Sejenak peristiwa penyembuhan orang buta ini juga menggambarkan perjalanan iman seorang beriman secara umum, maupun seorang katekumen secara khusus, dimana oleh karena belas kasih Allah, secara perlahan, setapak demi setapak, Ia berkenan menghantar kita pada pemahaman yang semakin sempurna akan Dia. Dalam iman, kita dihantar dari suatu kebutaan rohani kepada pengenalan akan Allah, sehingga pada akhirnya kita akan mengenal Dia sebagaimana Dia seharusnya dikenal, kemudian masuk dalam persatuan cinta yang mesra dengan-Nya. Untuk itu, diperlukan keterbukaan, kerendahan hati, penyerahan diri tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas atas Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Sebagaimana si buta, kita harus berani mengakui segala kelemahan dan keterbatasan kita, serta dengan hati yang remuk redam dalam pertobatan, beranjak dari kegelapan, untuk kemudian berjalan mendekati Allah, sehingga terang Kristus bercahaya atas kita. Dengan demikian, kita akan mengalami secara penuh rahmat berlimpah yang terkandung dalam pembaptisan yang telah kita terima. Dengan dibaptis, kita yang dahulu hidup dalam kegelapan, kini menjadi manusia baru yang hidup dalam terang Tuhan. Inilah konsekuensi sekaligus anugerah indah yang terkandung dalam panggilan Kristiani kita, yakni untuk mengalahkan kegelapan, dan membawa cahaya ke dalam dunia.

“Saudara-saudara, dahulu kamu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kamu hidup dalam terang Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang…Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu…Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Ef.5:8,11,14)

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah membawa Sang Terang itu ke dalam dunia, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita dapat menjadi putra-putri Ekaristi, untuk senantiasa membawa cahaya Kristus dan menghalaukan kegelapan dunia, sehingga kelak kita boleh memandang kemuliaan Allah dalam kekudusan, serta beroleh mahkota kemuliaan di surga. (vft)

 

 

Cinta akan rumah-Mu menghanguskan daku

MINGGU PRAPASKA II ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Kejadian 12: 1-4a

Mazmur Tanggapan – Mzm. 33: 4-5. 18-19. 20. 22

Bacaan II – 2 Timotius 1: 8b-10

Bacaan Injil – Matius 17: 1-8

CINTA AKAN RUMAH-MU MENGHANGUSKAN DAKU

“Seturut sabda-Mu kucari wajah-Mu, wajah-Mu kucari, Ya Tuhan. Janganlah wajah-Mu Kausembunyikan daripadaku.” (Mzm.26: 8-9)

Demikianlah antifon pembuka hari ini menghantar kita memasuki perjumpaan dengan Allah dalam Misa Kudus hari ini. Kata-kata pemazmur yang indah ini sebenarnya mengungkapkan kodrat dan tujuan keberadaan kita di dunia ini. Sebagai manusia, kita berasal dari Allah dan pada akhirnya, seturut besarnya cinta kita untuk mencari Dia, kita akan kembali kepada Dia, Sang Pemberi Hidup. Santo Agustinus berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi Diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Allah sendiri telah meletakkan dalam hati kita, suatu kerinduan untuk mencari dan menemukan-Nya. Suatu panggilan suci yang penuh misteri, untuk mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor. Akan tetapi, salah satu kegagalan terbesar para pengikut Kristus, terlebih di masa sekarang ini, adalah kegagalan untuk melihat bahwa Jalan Salib adalah satu-satunya jalan yang menghantar kita untuk mengalami transfigurasi, untuk berubah rupa dan mengalami persatuan sempurna dengan Allah. Kekristenan tanpa salib adalah palsu.  Panggilan untuk menapaki jalan kesempurnaan adalah suatu perjalanan yang harus dilalui dalam tapak-tapak derita, tapak-tapak dukacita dan air mata. Seperti Abram yang dipanggil keluar ke tanah yang dijanjikan Tuhan, kita akan melihat bahwa perjalanan panggilan ini bagaikan suatu perjalanan melewati malam gelap, suatu pendakian gunung rohani untuk masuk dalam awan ketidaktahuan bersama Allah. “Ikutlah menderita bagi Injil Tuhan dengan kekuatan Allah.” (2 Tim.1: 8c)

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Yesus memahami ketidakmengertian dan ketakutan para murid untuk menapaki jalan ini. Karena itulah Dia mengajak para murid untuk mendaki gunung dan beroleh kesempatan memandang Transfigurasi, agar para murid dapat melihat cahaya dan mahkota kemuliaan di balik misteri Salib.

Saudara-saudari terkasih.

Jikalau memang benar demikian adanya, bahwa Tuhan memanggil kita untuk memulai suatu perjalanan yang dipenuhi penderitaan, dukacita, dan kegelapan iman, apa yang menggerakkan tak terbilang banyaknya para kudus di sepanjang zaman untuk berani melangkahkan kaki tanpa keraguan di jalan ini? Para kudus sesudah zaman Gereja Perdana, bukanlah saksi mata langsung akan peristiwa Transfigurasi semulia itu, tetapi toh dalam kegelapan iman yang luar biasa menyedihkan, gelap dan menakutkan, meskipun seolah-olah air laut belum terbelah, mereka memberanikan diri untuk melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam air, dan di tengah angin kencang dan badai bergemuruh, mereka sanggup berjalan di atas air. Apa yang mendorong kegilaan iman untuk mengikuti Tuhan semacam itu?

Cinta…cinta…cinta…cintalah yang mendorong kegilaan merasul mereka…Sang Mempelai telah meninggalkan dalam hati kita sebuah luka cinta, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan luka itu, selain Dia yang telah melukai kita. Bayangkanlah suatu perasaan cinta antara dua orang kekasih yang paling mesra di dunia ini, dan lipatgandakanlah itu beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali. Demikianlah api cinta yang ditimbulkan oleh luka cinta dari Tuhan. Sama seperti Abram dan bagaikan seorang mempelai wanita yang meluap-luap dalam cinta akan Kekasihnya, demikianlah panggilan Tuhan telah memabukkan kita dalam cinta, sehingga kita berlari keluar, layaknya orang gila dalam pandangan dunia ini, meninggalkan segala yang merintangi kita, demi mencari Sang Cinta.

Dan lihatlah betapa luar biasanya kobaran cinta yang dinyalakan Roh Cintakasih itu. Jangankan untuk berkarya bagi Allah, untuk mengisahkan tentang Dia pun sudah membuat hati kita berdebar-debar karena luapan cinta.  Panggilan cinta ini bukanlah suatu panggilan untuk mengabaikan dunia, melainkan suatu panggilan untuk merasul dan menulari semua orang dengan kegilaan cinta yang sama. St. Josemaria Escriva  berkata, “Cintamu sedikit bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan jiwa-jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu. Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia, Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu. Dengan hidup merasul, lenyapkanlah bekas-bekas yang buruk dan kotor yang ditaburkan oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan dunia ini dengan terang Kristus yang kaubawa dalam hatimu.” Jangan meminta diturunkan dari salibmu, tetapi mohonkanlah kekuatan untuk terentang pada salib. Berharaplah kepada Tuhan. “Dialah penolong dan perisai kita.” (Mzm.33: 20b)

Saudara-saudari terkasih.

Saat ini Yesus berbicara kepadamu, “Berdirilah, jangan takut!” (Mat.17: 7b) Sama seperti ketika pertama kali Ia memanggil Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Allah saat ini memanggil engkau tepat di tengah-tengah pekerjaanmu, untuk menjadi “penjala manusia”. Jawablah “Ya” kepada-Nya, hari ini, besok dan sampai selama-lamanya. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah perkerjaanmu, dan kuduskanlah semua orang melalui pekerjaanmu. Inilah panggilan cinta kita, inilah kerasulan kita. Bilamana kita setia, pada senja hidup kita, kita akan mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor, berbahagia selamanya bersama Sang Cinta.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, selalu menyertai kita dengan doa-doanya, serta melindungi kita dalam naungan kasih dan mantol ke-ibu-annya, agar kita bisa mencapai cita-cita rohani ini, sebagaimana dia sendiri telah lebih dahulu menjalaninya dan beroleh mahkota kemuliaan karenanya. “Regnare Christum volumus!”  – “Kami ingin Kristus meraja!” (VFT)

Enyahlah, Iblis!

MINGGU PRAPASKA I  ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7

Mazmur Tanggapan – Mzm. 51: 4-4. 5-6a. 12-13. 14. 17

Bacaan II – Roma 5: 12-19

Bacaan Injil – Matius 4: 1-11

 

Enyahlah, Iblis!

Saudara-saudariku yang terkasih,

“Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej.2:7) Demikianlah bacaan pertama hari ini mengungkapkan keindahan dan kemuliaan manusia. Tidak ada makhluk hidup di alam semesta ini, selain manusia, yang dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Demikianlah tinggi dan berharganya nilai kita di hati Tuhan. Namun, di balik keindahan penciptaan manusia, terungkap pula kerapuhannya. Kita dibentuk dari debu tanah, dari sebuah materi yang begitu rapuh dan hina. Oleh karena itu, adalah teramat penting untuk disadari bahwa kita yang tercipta dari debu tanah, karena rahmat dan belas kasih Allah, telah diangkat sedemikian tinggi, melebihi semua makhluk hidup di dunia, bahkan melebihi para malaikat dan makhluk surgawi lainnya, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Ini bukan karena jasa-jasa kita, melainkan anugerah Allah semata-mata. Jikalau demikian, sudah pasti dan tidak mungkin dibantah bahwa manusia hanya bisa menemukan kesejatian hidup di dalam Dia, yang menciptakan kita. Dia yang memberi makna dalam hidup kita. Sang Cinta yang telang mencipta kita karena cinta, dan memanggil kita ke dalam persatuan cinta dengan-Nya. Di dalam ketaatan kepada kehendak-Nyalah kita akan menemukan kemerdekaan sejati kita. Terpisah dari Allah berarti keterpisahan dari Sang Pemberi Hidup, Asal dan Tujuan hidup kita. Terpisah dari-Nya berarti kehampaan dan kebinasaan. Kita mungkin saja hidup, tetapi menjalaninya layaknya seorang yang tidak memiliki hidup, karena kita telah menyerahkan kebebasan kita untuk menjadi budak si jahat.

Iblis, si ular tua itu, sangat tahu akan betapa mulia dan berharganya kita di hati Tuhan. Oleh karena itu, sejak awal penciptaan, dengan segenap daya upaya, ia telah menyiapkan perangkap untuk menjatuhkan manusia dari kemuliaan dan martabat ilahinya. Perangkap itulah yang kita sebut dosa. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa manusia pertama tidak kehilangan Eden karena menghambakan diri secara total kepada si jahat, kejatuhan pertama terjadi bukan saat manusia berkata kepada iblis, “Ya, mulai saat ini aku mau menyembah setan.” Tidak demikian. Manusia jatuh ke dalam dosa karena dia tergoda akan argumen si jahat bahwa dia dapat hidup tanpa Tuhan, akan nafsu keinginan untuk menjadi seperti Allah. Manusia pertama mengalami kejatuhan dosa karena kegagalannya untuk mengatakan “Tidak!” kepada bujukan si jahat. Ia tergoda untuk melepaskan perlindungan dan belas kasih Tuhan, dan mencoba berjalan sendiri tanpa Tuhan.

Dalam pemahaman ini, kita bisa lebih memahami kenapa dunia ini semakin jahat, padahal tidak semua orang jahat nyata-nyata mengaku bahwa setanlah yang mereka sembah, atau menyatakan penyerahan diri kepada Iblis secara terang-terangan di hadapan umum. Para ateis yang hidup di negara-negara komunis maupun di berbagai belahan dunia lainnya, kebanyakan bukanlah anggota sekte-sekte gelap. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang memiliki dedikasi, kerja keras, falsafah hidup yang baik, nilai-nilai moral, akal budi yang cerdas. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali terbukti memberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan dunia. Tetapi, sama seperti manusia pertama, mereka berpikir bahwa mereka dapat berjalan tanpa Tuhan, mereka dapat menemukan kebebasan dan kesejatian hidup tanpa Dia. Kegagalan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat semacam inilah yang membuat seorang ibu dapat berjuang mati-matian melawan hukuman mati serta memperjuangkan hak-hak hidup seseorang, tetapi membenarkan aborsi, membunuh darah dagingnya sendiri. Seorang ayah dapat membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian, tetapi di sisi lain sanggup membunuh banyak orang atas pemahaman ideologi dan keyakinan yang sesat. Seorang bankir dapat bekerja keras untuk memperoleh kemakmuran dalam hidup, tetapi membiarkan kerakusannya itu membawa kehancuran ekonomi suatu negara, dan membuat banyak orang jatuh dalam jurang kemiskinan. Dunia dapat jatuh dalam kesedihan mendalam karena menurunnya indikator-indikator ekonomi, dan begitu depresi atas jatuhnya harga-harga saham, tapi dunia tidak lagi berdukacita atas meninggalnya begitu banyak tunawisma dan gelandangan di jalan-jalan kota setiap hari. Keinginan manusia untuk menggapai langit tanpa Tuhan, merupakan bukti nyata bahwa tanpa disadari, manusia telah jatuh dalam jurang dosa dan belenggu si jahat.

Apakah dengan kenyataan demikian, kita yang adalah anggota Gereja, dapat melihat diri kita sebagai kumpulan orang yang tidak mengalami kejatuhan yang sama seperti mereka?

Tentu saja tidaklah demikian. Gereja itu Kudus, tetapi selagi di dunia ini, kita adalah Gereja yang sedang berziarah, dengan segala pergumulan dan jatuh bangun menuju kesempurnaan. Yang membedakan kita dengan dunia adalah rahmat Tuhan yang bekerja secara istimewa dalam Gereja. Dengan pembaptisan, kita telah dibebaskan dari dosa asal, sekaligus mulai dihantar pada pengenalan yang sempurna akan Allah, di dalam Iman. Oleh karena itu, jikalau kegagalan dunia untuk bepaut kepada Tuhan adalah dosa, maka, kegagalan Gereja untuk berpaut pada Tuhan adalah dosa yang lebih besar lagi. Kenapa demikian? Karena kita telah dipanggil ke dalam pengakuan akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan. Dunia tidak mengikuti Tuhan, tetapi kita, putra-putri Gereja, yang telah bertahun-tahun mengikuti Dia, bagaimana mungkin kita tidak mengenal Dia? Bagaimana mungkin hati kita tidak merasa remuk-redam disaat kita mengalami kejatuhan dosa?

Manakala kita dengan sadar membiarkan diri jatuh dalam dosa layaknya anak-anak kegelapan dari dunia ini, sesungguhnya dosa kita jauh lebih besar lagi, karena kita melakukannya di saat kita telah mengenal Allah dan kehendak-Nya.

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kesadaran akan kerapuhan dan kegagalan kita, marilah kita memandang cahaya Ilahi dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Berbeda dengan manusia pertama yang membiarkan dirinya untuk tergoda dan jatuh dalam dosa, Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa sebagai manusia, kita bisa mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Putra Allah, yang adalah sungguh-sungguh manusia, menjalani pencobaan selama 40 hari, mematahkan segala argumen si ular tua itu, dan pada akhirnya menang atas pencobaan. Injil hari ini merupakan peneguhan iman bagi kita semua, untuk melihat hidup kita masing-masing ibarat padang gurun, dimana si jahat senantiasa menyiapkan perangkap, argumen, dan tipu daya dengan berbagai cara untuk menjatuhkan kita dari kemerdekaan sejati anak-anak Allah. Ketika Kitab Suci berbicara bahwa Yesus “dibawa oleh Roh”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa pencobaan itu terjadi sepengetahuan dan dalam penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, yakinlah, kemanapun Tuhan membawa kita, dalam situasi apapun itu, semenakutkan dan seberat apapu itu, apapun nama yang kita berikan atas peristiwa itu, entah padang gurun, malam gelap, awan ketidaktahuan, apapun namanya, iblis ada disana, tetapi kuasa Tuhan yang jauh lebih besar juga ada disana. Selama kita tetap setia mendengarkan suara Tuhan, bilamana kita tetap berpaut pada-Nya dan tidak membiarkan diri kita terlepas dari-Nya, maka, pada waktu yang tepat, Dia akan memberi kita kekuatan untuk mengatakan “Tidak!” dan meludahi si jahat. Tetaplah setia. Biarlah Sabda Tuhan, doa, puasa, laku tapa dan mati ragamu menjadi baju zirahmu untuk melawan si jahat. Biarlah Ekaristi dan sakramen-sakramen Gereja menjadi daya hidup yang membuat tubuhmu kuat untuk bertempur, sehingga ular tua itu lari ketakutan dari medan pertempuran rohani ini.

Semoga Perawan Tersuci Maria, teladan ketaatan, senantiasa mengajar kita untuk selalu menjawab “Ya!” kepada Allah, dan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Kiranya segenap orang kudus, para malaikat dan balatentara surgawi, bertempur bersama kita, secara khusus di masa Prapaska ini, sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi manusia-manusia Paska, putra-putri Cahaya, yang menghalau kegelapan dari dunia ini, dan memenangkan tidak hanya jiwa kita, melainkan juga jiwa-jiwa banyak orang, merenggutnya dari kuasa kegelapan, serta membawa mereka ke dalam Cahaya.

Inilah panggilan kita, inilah medan pertempuran yang harus kita menangkan. Bersama Tuhan pasti bisa! (VFT)

 

RABU ABU / ASH WEDNESDAY

RABU ABU / ASH WEDNESDAY

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita mengawali Masa Puasa ( Prapaskah ) dengan Hari Rabu Abu.
Rabu Abu adalah hari pertama masa Pra-Paskah. Ini terjadi pada hari Rabu, 40 hari sebelum Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu atau 44 hari (termasuk Minggu) sebelum hari Jumat Agung.
Selama 40 hari, sama seperti Tuhan Yesus berpuasa dan dicobai Iblis, demikianlah umat Katolik akan menjalani Retret Agung dalam Puasa, pantang, doa, laku tapa dan mati raga.

Pada hari ini umat yang datang ke Gereja dahinya diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno, dimana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (misalnya seperti dalam Kitab Ester 4:1, 3). Dalam Mazmur 102:10 penyesalan juga digambarkan dengan “memakan abu”: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.”

Dalam Misa Rabu Abu, pemberian tanda salib dengan abu tersebut disertai dengan ucapan, “Ingatlah hai manusia bahwa engkau berasal dari abu/debu tanah dan akan kembali menjadi abu/ debu tanah. Bertobatlah dan percayalah pada Injil.”

Banyak orang Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini dan selama Masa Puasa 40 hari, umat Katolik berusia 18–59 tahun diwajibkan berpuasa, dengan batasan makan kenyang sekali sehari dan berpantang, sambil berdoa serta melakukan laku tapa dan mati raga.

Selamat berpuasa teman-teman… – with Keita, Julian Fransiskus Xaverius, Reiner, Romana, Stevano, j o y c e, Sangerta, Iwan, Pingkan, Yuliet, Anita, Antonius, David, Grifit, Steiven, Fatlly, Ladys, Lucia, Faldo, Novri, Meivy, Onal, Deivy, Refino, Ladys, Vinno, Conny, Jenifer, Nugroho, Gerry, Jeffry, Adeline, Yhunnie, Marsella, Meidy, Angky, Novita Maria, Angela, Hesty, incentviola, Incent, Santi, Mariska, Fernando, Kareena, Amelia, Tirsa, Marcel, Oijoon, Jejhe, David, Natasya Bianca, and Andre

View on Path

ALLAH saja CUKUP!

MINGGU BIASA VIII ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 49: 14-15

Mazmur Tanggapn – Mzm. 62: 2-3. 6-7. 8-9ab

Bacaan II – 1 Korintus 4: 1-5

Bacaan Injil – Matius 6: 24-34

 

ALLAH saja CUKUP!

“Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan dikau.” (Yes.49:15)

Saudara-saudari terkasih.

Di tengah situasi dunia yang dipenuhi berbagai ketidakpastian, peperangan, kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, dan berbagai kejahatan lainnya, dan di tengah kebisingan dunia yang membuat dunia mempertanyakan eksistensi dari Allah Yang Mahakuasa dan Mahacinta, kalimat dari kitab Yesaya ini merupakan suatu hiburan dan kekuatan bagi setiap orang yang percaya. Tuhan tidak pernah berhenti menyayangi umat-Nya. Dunia yang tercipta karena cinta-Nya yang besar, tidak mungkin akan ada dan sudah pasti binasa tanpa Tuhan. Allah senantiasa setia, meskipun umat manusia berulang kali tidak setia. Apabila dunia ini kehilangan keteraturan dan jatuh dalam jurang kegelapan dan ketiadaan cinta, hal itu dikarenakan sama seperti manusia pertama, kitalah yang telah berpaling meninggalkan persatuan cintakasih dengan Allah.

Si jahat telah menaburkan ke dalam hati dan pikiran kita suatu dorongan untuk mencari kepastian bahwa kita sungguh-sungguh dicintai Allah, dan karena kekuatiran akan hal itu, perlahan hati kita mulai tidak berpaut lagi kepada Allah. Daripada menyerahkan hidupnya kepada Allah, sebagian orang mencoba mengandalkan kekuatannya sendiri, yang lain mempercayakan dirinya pada organisasi maupun pribadi yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, malahan ada pula yang bertindak lebih jauh lagi dengan menyerahkan diri untuk menjadi budak dosa dan tawaran si jahat yang menjanjikan kebahagiaan palsu.

Bunda Gereja, yang “kepadanya telah dipercayakan rahasia Allah,” (bdk.1Kor.4:1c) hari ini menyuarakan kembali seruan Yesus, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat.6: 24)

Saudara-saudari terkasih.

Segala kekuatiran manusia semuanya berakar pada kurangnya iman akan penyelenggaraan dan belas kasih Allah. Adalah menarik bahwa Yesus membandingkan hidup kita dengan burung-burung di langit, dan bunga bakung di ladang. Dalam menggunakan perbandingan demikian, kita  hendaknya bijaksana untuk melihat bahwa Yesus tidak bermaksud mengesampingkan pentingnya kerja. Sebab, bila kita sungguh-sungguh melihat, dalam kesehariannya ada proses kerja yang harus dilakukan baik oleh burung di langit maupun bunga bakung di ladang untuk hidup. Akan tetapi, maksud utama Yesus ialah untuk mengingatkan kita bahwa Allah turut bekerja di dalam semuanya itu. Jikalau hewan dan tumbuhan saja dipelihara oleh-Nya, maka sudah pasti Ia lebih lagi memelihara hidup manusia, yang diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya.

Untuk menyadari penyelenggaraan dan belas kasih Allah yang sedemikian besarnya, kita memerlukan iman dan cinta yang besar pula. Kita tidak dapat mengabdi Dia setengah-setengah. Iman dan cinta kepada Allah, haruslah total dan tak terbagi, sebagaimana diungkapkan oleh St. Josemaria Escriva, “Tiada artinya bagiku hati yang mendua, bila kuberikan hatiku akan kuserahkan seluruhnya.” Sikap seperti inilah yang menjadikan kita hamba-hamba Kristus yang sejati, dan juga memberi makna baru dalam segala kerja yang kita lakukan sebagai sarana kekudusan. Sebagai rekan kerja Allah dalam karya penciptaan, kita dipanggil untuk “bekerja segiat-giat-Nya bagi Tuhan semesta alam,” demikian kata Yesaya. Jadikanlah pekerjaanmu sebagai sarana pengudusan diri, pengudusan kerja, dan pengudusan seluruh dunia melalui kerja. Lakukanlah semua itu dengan totalitas dan cinta, tanpa kekuatiran akan hari esok. Janganlah cemas, takut, dan kuatir, sebab di dalam Dia ada kelimpahan rahmat. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-Mu.” (Mat.6:33)

Kiranya Bunda Maria senantiasa menyertai kita dan menghantar kita pada kesadaran bahwa Allah saja Cukup, sehingga dengan demikian kita akan menyadari bahwa doa itu bukan soal meminta melainkan mencinta, dan bahwa Tuhan Yang Mahatahu, akan selalu mencukupkan segala yang kita butuhkan, asalkan kita menjalankan bagian kita untuk percaya, untuk mencinta, dan untuk berkarya bagi-Nya. (Verol Fernando Taole)