Beatifikasi Alvaro de Portillo

Sesuai dengan Dekrit Kongregasi bagi Penggelaran Orang Kudus  (dekrit bertanggal 5 Juli 2013), pada tanggal 21 Januari 2014, Bapa Suci Paus Fransiskus telah memberikan persetujuan atas mujizat yang terjadi dengan perantaraan Mgr. Alvaro de Portillo (Bapa Prelat Pertama Opus Dei).

Atas permintaan Mgr. Javier Echevarria (Bapa Prelat Opus Dei saat ini), Bapa Suci Paus Fransiskus telah menetapkan bahwa perayaan Beatifikasi (penggelaran “Beato”) bagi Mgr. Alvaro de Portillo akan digelar di kota kelahirannya Madrid (Spanyol), pada tanggal 27 September 2014.

Bagi yang tidak bisa hadir perayaan Beatifikasi di Madrid nanti, saudara-saudari Karya telah menyiapkan sesuatu yang menarik.

Apa itu?

Silakan lihat video berikut ini.

 

Cinta… cinta… cinta…

MINGGU BIASA VII ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Imamat 19: 1-2. 17-18

Mazmur Tanggapan – Mzm.103: 1-2. 3-4. 8. 10. 12-13

Bacaan II – 1 Korintus 3: 16-23

Bacaan Injil – Matius 5: 38-48

 

CINTA…CINTA…CINTA…

Saudara-saudari terkasih,

Dalam salah satu tradisi suci Kristiani diceritakan bahwa, di usia senjanya, Rasul Yohanes ditanya oleh murid-muridnya, “Guru, kenapa setiap hari engkau hanya berbicara tentang Cinta, cinta, dan cinta? Apakah tidak ada hal lain yang diajarkan oleh Yesus selain Cinta?” Dengan penuh kelembutan hati seorang bapa, Rasul Yohanes menjawab, “Karena dari seluruh ajaran Yesus, tidak ada satupun yang lebih penting selain Cinta, cinta, dan cinta.”

Hari ini Yesus memberi suatu Hukum Baru untuk menyempurnakan hukum yang lama. Pernyataan sabda, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi,” (Mat.5:38b) tidak boleh semata-mata dilihat sebagai pembenaran terhadap pembalasan dendam, melainkan sebenarnya hendak mengingatkan umat Allah di masa Pejanjian Lama, yakni mereka yang mengenal Allah dengan pemahaman yang sangat terbatas, bahwa pembalasan dendam ada batasnya, sebab dari semula kebencian dan dendam bukanlah kehendak Allah, jangan sampai kita menuruti dorongan kebencian dalam diri kita, sehingga pada akhirnya, kita melakukan tindakan yang justru berakibat putusnya relasi kita dengan Allah dan sesama. Sebab, sebagaimana kata pemazmur, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, lambat akan marah dan penuh kasih setia.” (Mzm.103:8) Berulang kali Allah memperkenankan manusia mengenal Dia, agar sebagaimana Dia dikenal, demikian juga manusia, yang diciptakan oleh-Nya dan secitra dengan-Nya, seharusnya dikenal. Dengan perantaraan Musa, Allah kembali mengingatkan umat kesayangan-Nya dengan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku ini Kudus. Janganlah engkau membenci saudaramu di  dalam hatimu…melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (bdk.Im.19:2.17-18) Kita kembali diingatkan akan kemurnian panggilan kita. “Panggilanku adalah Cinta,” demikianlah kata St. Theresia dari Lisieux. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini bagaikan sebuah jendela bagi kita untuk melihat ke dalam hati Tuhan, asal segala Cinta, dan serentak tersungkur dalam keharuan dan rasa malu yang mendalam dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan kita. Pesan Injil hari ini, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga sempurna adanya,” (Mat.5:48) merupakan panggilan untuk membentuk diri kita hari demi hari agar semakin serupa dengan-Nya, suatu panggilan yang menuntut kita untuk melepaskan segala sesuatu, entah dosa, kenginan-keinginan pribadi, kelekatan, dan segala hal lain yang di luar Allah, suatu panggilan untuk mengosongkan diri dari dunia, serta memenuhi diri kita dengan Allah dan kehendak-Nya. Karena belas kasih-Nya, Allah telah mengijinkan saudara dan saya untuk mendekati Dia dalam kelimpahan cinta. Namun, untuk bersatu secara sempurna dengan-Nya dalam cinta, adalah penting bagi kita untuk memahami hakekat Cinta Sejati di dalam Dia, yang berbeda dengan cinta semu yang ditawarkan oleh dunia.

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Pertama. Cinta sejati selalu siap untuk terluka. Cinta tanpa luka, bukanlah cinta. Cinta tanpa salib, bukanlah cinta. Cinta tanpa kerelaan untuk melepaskan, bukanlah cinta. Sama seperti Yesus yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, demikianlah kita diminta untuk mengosongkan diri dari segala ke-Aku-an dan membiarkan kehendak Allah memenuhi diri kita. Sama seperti Kristus yang terluka, dimana semakin paku menghujam menembus tangan dan kaki-Nya, yang ada bukan kekurangan cinta melainkan kelimpahan cinta, demikianlah juga hendaknya kita. Kesejatian cinta kita semakin sempurna bilamana kita menerima segala luka, ketidakadilan, fitnah, hinaan, perlakuan kasar, dan berbagai kemalangan lainnya yang ditimpakan kepada kita oleh sesama kita, serta membiarkan luka cinta ini menghantar kita pada hakekat cinta yang kedua, yakni, mengampuni. Cinta sejati selalu bersedia untuk mengampuni. Pengampunan bagi jiwa merupakan suatu obat ilahi yang memurnikan jiwa dan memampukannya untuk mencintai tanpa syarat dan tanpa batas. Sama seperti Kristus, yang selalu dan selalu mengampuni, demikian juga hendaknya kita. Keengganan untuk mengampuni sama artinya dengan tunduknya jiwa pada belenggu setan, membiarkan diri kita untuk dirantai oleh amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan bagaikan kunci yang membebaskan kita dari belenggu dosa, yang membuat kita terlepas dari rantai amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan mengubah kemanusiaan kita yang rusak karena dosa, menjadi sempurna dalam segala keutuhannya. Bilamana kita sungguh-sungguh menerima hakekat cinta ini, dan hidup di dalam kesejatian cinta yang demikian, maka pada saat itulah kita menjadi sempurna, sama seperti Bapa adalah sempurna.

Saudara-saudari terkasih,

Sejak awal, Kekristenan telah menjadi penyangkalan terhadap dunia. Nilai-nilai Kristiani serta berbagai tuntutan moral yang terkandung dalam panggilan Kristiani, seolah bertentangan dengan dunia ini. Kita dipanggil untuk merasul di tengah dunia, yang awalnya tercipta karena Cinta, tetapi yang sekarang memalingkan wajahnya dari Sang Cinta. Perang saudara, pembunuhan massal, diskriminasi, kemiskinan dan kelaparan, aborsi, perceraian, hubungan bebas dan narkotika, semuanya seolah menjadi tanda zaman bahwa dunia ini semakin kehilangan arti Cinta yang sejati. Di tengah semuanya ini, kita semua dipanggil sebagai putra-putri Sang Cinta, untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan, sekaligus menjadi tanda iman dan seruan pertobatan, agar dunia ini, yang telah dibawa si jahat ke dalam jurang kegelapan yang dingin karena ketiadaan cinta, kelak boleh kembali dihangatkan oleh kobaran api cinta. Jadilah pelita-pelita yang dengan segala daya upaya dan karya, membawa cahaya bagi sesama. Semoga Perawan Tersuci Maria, Bunda Gereja, senantiasa memohonkan karunia-karunia Roh Kudus bagi hidup dan karya kita, agar karenanya, kita boleh mendatangkan api yang membakar seluruh dunia dalam nyala api cinta. (By: Verol Fernando Taole)

Kejutan di tengah Konsistori

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini 22 Februari, kita merayakan,
Pesta Tahta St. Petrus

Tuhan Yesus telah menetapkan Petrus sebagai Kepala Gereja, dan bahwa Gereja-Nya akan didirikan di atas Petrus sebagai fondasi dengan bersabda,
“Engkau adalah Petrus ( artinya: Batu Karang ) dan diatas batu karang ini Aku akan didirikan jemaat-Ku ( Gereja-Ku ) dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” ( Mat.16:18-19 )

Perintah Yesus inilah yang senantiasa diimani dan dijaga oleh Gereja Katolik.
Rasul St. Petrus sebagai Paus pertama, telah mewariskan tugas sebagai Kepala Gereja melalui suksesi apostolik kepada penggantinya turun-temurun, sampai kepada Paus Fransiskus saat ini, yang adalah pengganti sah Rasul St. Petrus ke-266.

Pada hari ini pula, Gereja bersyukur atas dilantiknya 18 dari 19 Kardinal yang baru oleh Paus Fransiskus. Dengan demikian, jumlah Kardinal saat ini bertambah menjadi kurang lebih 180 orang Kardinal dari berbagai negara.
Misa pelantikan para Kardinal terpilih baru saja berakhir.
Namun, satu hal yang mengejutkan sekaligus menggembirakan ialah kehadiran Paus Emeritus Benediktus XVI ( Pengganti Rasul St. Petrus ke-265 ) dalam Konsistori tadi.
Setelah hampir tidak pernah terlihat dalam acara resmi Gereja sejak mengundurkan diri, hari ini Beliau hadir dan duduk di baris depan bersama para Kardinal.
Kehadiran Beliau seakan hendak mengungkapkan rasa kasih persaudaraan dengan para Kardinal, sekaligus ketaatan kepada Paus Fransiskus, yang saat ini menjadi Kepala Gereja dan Pengganti Rasul St. Petrus ke-266. – with Keita, Julian Fransiskus Xaverius, Reiner, Romana, Stevano, j o y c e, Sangerta, Iwan, Pingkan, Yuliet, Anita, Ladys, David, Grifit, Steiven, Fatlly, Antonius, Lucia, Faldo, Novri, Conny, Onal, Deivy, Refino, Ladys, Vinno, Meivy, Jenifer, Nugroho, Rilly Anastasye, Jeffry, Adeline, Yhunnie, Marsella, Meidy, Angky, Novita Maria, Angela, Hesty, incentviola, Incent, Santi, Mariska, Fernando, Natasya Bianca, Amelia, Tirsa, Marcel, Oijoon, Jejhe, David, Kareena, Andre, and Gerry

View on Path

Kebebasan sejati hanya ada di dalam Tuhan

MINGGU BIASA VI ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Putra Sirakh 15: 15-20

Mazmur Tanggapan – Mazmur 119: 1-2. 4-5. 17-18. 33-34

Bacaan II – 1 Korintus 2: 6-10

Bacaan Injil – Matius 5: 17-37

 

KEBEBASAN SEJATI HANYA ADA DI DALAM TUHAN

Saudara-saudariku yang terkasih.

Kebebasan merupakan suatu kata yang kuat. Karena kerinduan akan kebebasan, seorang yang miskin secara materi dapat bekerja keras untuk keluar dari jurang kemiskinan, seorang wartawan dapat dengan gigih menyampaikan berita yang mengungkapkan ketidakadilan, seorang dokter dapat melakukan berbagai penelitian medis untuk mencari obat dari penyakit yang mematikan, suatu bangsa dapat bangkit melawan perbudakan, dan sebuah rezim pemerintahan yang lalim dapat digulingkan. Kehendak bebas merupakan suatu anugerah Allah yang diberikan secara istimewa bagi manusia.

Akan tetapi, menjadi sesuatu yang sungguh amat membahayakan dan merusak kemanusiaan manakala kebebasan diartikan sebagai penyangkalan sepenuhnya terhadap hukum Tuhan. Kebebasan bukanlah kesewenang-wenangan, bukanlah semata-mata untuk menghendaki yang jahat. Celakalah orang yang memperjuangkan kebebasan manusia untuk hidup, tetapi disaat yang sama membenarkan aborsi yang melenyapkan kehidupan. Celakalah orang yang berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia di bidang medis, tetapi disaat yang sama membenarkan euthanasia. Celakalah suatu bangsa yang berjuang untuk kemakmuran rakyatnya dengan menjajah bahkan memperbudak yang lain. Celakalah suatu kelompok masyarakat yang menghendaki kemapanan ekonomi, namun memalingkan wajah dari kemiskinan, membiarkan ketidakadilan, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Bilamana demikian, maka sebenarnya itu bukanlah kebebasan, melainkan penghinaan terhadap tujuan utama dari kebebasan itu sendiri, penyangkalan terhadap martabat kemanusiaan yang mulia, dan perlawanan terhadap Hukum Tuhan yang akhirnya berujung pada kebinasaan. Kebebasan palsu yang demikian berasal dari si Jahat, bapa segala dusta.

Saudara-saudariku yang terkasih.

Pahamilah ini! Segala hukum manusia hanya dapat mendatangkan kebebasan sejati, manakala dibuat sejalan dengan hukum Tuhan. Hukum manusia manapun yang tidak mendatangkan kebebasan semua umat manusia, bukanlah hukum Tuhan. Kekebasan haruslah selalu dikejar untuk mencapai kebahagiaan semua manusia. Tidak ada kebahagiaan sejati di luar Tuhan. Kebebasan bukanlah penyangkalan terhadap hukum Tuhan, bukan pula ketidaksetiaan merangkul misteri salib. Oleh karena itu, ketaatan kepada kehendak Allah, kesetiaan untuk menjalankan hukum-hukum

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Tuhan, serta ketekunan menapaki jalan Saliblah, yang pada akhirnya akan membebaskan kita. “Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setia pun dapat kaupilih.” (Sir.15:15) Jangan melihat kesetiaan akan hukum Tuhan sebagai sesuatu yang membebani, sehingga kita mencoba mencari celah-celah hukum untuk terbebas darinya. Lihatlah keindahan hukum Tuhan sebagai suatu panggilan suci untuk mengalami libertas filiorum Dei, kebebasan sejati anak-anak Allah. Ketidaksetiaan akan hukum Tuhan sebenarnya berarti kejatuhan dari kebebasan ke dalam belenggu dosa dan kuasa maut yang membinasakan. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan kembali bahwa kehadiran-Nya, kebebasan sejati yang Ia tawarkan, bukanlah untuk meniadakan atau membatalkan hukum-hukum Tuhan, melainkan untuk menggenapinya. Serangkaian aturan hukum Taurat yang dikemukakan dalam bacaan Injil hari ini, memperoleh makna baru di dalam Yesus. Asalkan kita sungguh-sungguh setia, seturut rahmat Tuhan, hukum-hukum-Nya akan terukir di hati kita, dan kita akan dengan penuh kerinduan mencari kehendak-Nya, karena kesadaran bahwa hanya dalam ketaatan mutlak kepada hukum Tuhanlah kita akhirnya menemukan kebebasan kita yang sejati. Barangsiapa dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta melaksanakan segala hukum Tuhan, pada akhirnya, sebagaiamana kata-kata rasul Paulus, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor.2:9)

Pandanglah Perawan Maria, Bunda Kebijaksanaan. dalam dirinya Gereja melihat seorang hamba Tuhan yang tak bercela dalam kesetiaan akan hukum Tuhan. Maria telah mencari Tuhan dengan segenap hati. Kini, dia memperoleh kebebasan sejati, dan karenanya beroleh kelimpahan anugerah surgawi. Suatu kebebasan sebagai anak Allah yang diawali dengan kalimat sederhana, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Semoga Bunda Maria senantiasa menuntun kita, laksana Bintang Timur, yang menunjukkan jalan kesetiaan menuju Allah, sumber kebebasan, harapan dan sukacita kita yang sejati. ( By: Verol Fernando Taole )

Peringatan St. Valentinus (Valentine’s Day)

KENAPA ADA VALENTINE’S DAY ?

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini, 14 Februari, kita memperingati,
St. Valentinus, Uskup dan Martir dari abad-3 Masehi.
Peringatannya hari ini juga dikenal sebagai Valentine’s Day atau “Hari Kasih Sayang”.
Valentinus adalah seorang Uskup yang berasal dari kota bernama Terni yang terletak sekitar 60 mil dari Roma. Ia ditahbiskan menjadi Uskup Terni oleh Paus St. Viktor I sekitar tahun 197 M.

Sejarah Valentine’s Day

Pada tanggal 14 Februari, di kota Roma ada sebuah tradisi di mana para laki-laki menarik undian dari sebuah wadah yang besar, yang berisi nama para wanita yang akan menjadi pasangan mereka dalam berbagai bentuk perayaan pada tanggal tersebut, untuk menghormati dewi cinta Romawi yang bernama Februata Juno. Pada masa itu para pastor & Uskup Katolik mengutuk kebiasaan tersebut karena apa yang mereka lakukan tersebut tentu saja dalam bentuk penyembahan berhala. Salah satu Uskup Katolik yang sangat menentang hal ini adalah Uskup Valentinus.
Pada masa itu pula, Bangsa Romawi terlibat dalam banyak peperangan, sehingga Kaisar Klaudisius menarik banyak pria-pria Romawi untuk bergabung ke dalam medan pertempuran. Banyak dari pria-pria ini tidak mau meninggalkan kekasih yang mereka cintai. Hal ini membuat Kekaisaran Romawi sulit untuk merekrut tentara.

Kaisar Klaudius pun akhirnya murka dan memerintahkan ke seluruh daerah bahwa tidak boleh ada lagi upacara pernikahan. Uskup Valentinus merasa kasihan kepada pasangan-pasangan Kristiani yang dipaksa untuk berpisah. Akhirnya, Uskup Valentinus dengan diam-diam menyatukan para pasangan Kristiani dalam Sakramen Perkawinan Suci. Dan segeralah terjadi, banyak pernikahan kristiani di Roma, seolah-olah dekrit kaisar di atas tidak pernah dikeluarkan. Dan akhirnya berita ini sampai ke telinga otoritas romawi. Atas perintah Prefek Plasidus, Uskup Valentinus pun ditangkap dan mengalami siksaan berat dalam penjara.
Tetapi, sekalipun dalam keadaan demikian, Uskup Valentinus tetap menulis surat pastoral sebagai Gembala kepada umatnya dari dalam penjara, untuk menguatkan Iman mereka. Di akhir surat dia menutupnya dengan kata, “From Your Valentine”. Inilah awal mula kartu ucapan pada Valentine’s Day.

Akhirnya, pada tanggal 14 Februari 269 Masehi, Uskup Valentinus dijatuhi hukuman mati dengan disiksa, dilempari batu beramai-ramai, hingga akhirnya dipenggal di Via Flaminia.
Paus yang juga kemudian menjadi Santo, Julius I, membangun sebuah Gereja dekat Ponte Mole untuk mengenang St. Valentinus dari Roma. Relikui St. Valentinus, yakni tulang-belulangnya, saat ini berada di Gereja Santo Praxedes. Setelah itu, Paus Gelasius I (496 M) secara resmi menetapkan Pesta St. Valentinus (Valentine’s Day), yang jatuh pada tanggal 14 Februari, serta menjadikan St. Valentinus sebagai Pelindung para kekasih dan keutuhan Sakramen Perkawinan.

Santo Valentinus, doakanlah kami untuk memiliki cinta sejati, sebagaimana KRISTUS sendiri. – with Keita, Julian Fransiskus Xaverius, Reiner, Romana, Stevano, j o y c e, Sangerta, Iwan, Pingkan, Yuliet, Anita, Antonius, David, Grifit, Steiven, Fatlly, Cindy, Ladys, Lucia, Faldo, Novri, Meivy, Onal, Deivy, Refino, Ladys, Vinno, Conny, Jenifer, Nugroho, Mariska, Jeffry, Adeline, Yhunnie, Marsella, Meidy, Angky, Novita Maria, Angela, Hesty, incentviola, Incent, Santi, Rilly Anastasye, Fernando, Kareena, Amelia, Tirsa, Marcel, Oijoon, Jejhe, Alden, David, Natasya Bianca, Andre, and Gerry

View on Path

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

Salt and Light of the world

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

RENUNGAN MINGGU BIASA KE – V ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 58: 7-10

Mazmur Tanggapan – Mzm.112: 4-5.6-7.8a.9

Bacaan II – 1 Korintus 2: 1-5

Bacaan Injil – Matius 5: 13-16

 

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

Saudara-saudariku yang terkasih,

Hari ini, meskipun berbicara melalui suatu perumpamaan, Tuhan Yesus memberikan suatu gambaran yang sangat jelas, akan tugas dan panggilan kita sebagai seorang Kristen.

Kamu adalah Garam dunia

Pada zaman Yesus, garam adalah komoditas berharga. Orang-orang menggunakannya sebagai alat tukar dalam perdagangan, seperti halnya emas dan saham di masa kini. Di musim panas pada waktu itu, jauh sebelum ditemukannya listrik maupun kulkas, garam tidak hanya dipergunakan sebagai penyedap masakan, melainkan juga dipergunakan untuk mencegah daging dan bahan makanan sejenis lainnya dari pembusukan, atau dengan kata lain, untuk menjaga keutuhan dan kemurnian makanan itu agar terhindar dari perubahan.  Oleh karena itu, manakala Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai garam dunia, Dia hendak menunjukkan bagaimana seharusnya seorang Kristen hidup. Yesaya dalam bacaan I mengungkapkan kesejatian seorang hamba Allah. Ia dipanggil untuk memberi makan, perlindungan, pakaian, untuk tidak menyembunyikan diri maupun menutup mata terhadap dunia dengan segala kekurangannya, untuk tidak menebar fitnah dan dusta terhadap sesama. (bdk.Yes.58:7) Seorang Kristen yang sejati haruslah menjadi pribadi yang menghadirkan damai dan sukacita bagi setiap orang yang dia jumpai, untuk membawa sentuhan yang menyembuhkan bukannya melukai, untuk mempertahankan kemurnian martabat kemanusiaan yang diciptakan secitra dengan Allah, untuk mempertahankan hidup bukannya melenyapkan hidup, untuk senantiasa setia kepada martabatnya sebagai putra-putri Allah. Suatu panggilan luhur untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. “Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu,” demikianlah kata St. Josemaria Escriva. Kegagalan menjalankan tugas luhur ini merupakan penyangkalan akan Allah dan kemanusiaan kita sendiri. Dengan keras Yesus mengatakan bahwa untuk orang yang demikian, “tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  (Mat.5:13c)

Kamu adalah Terang dunia

Sebuah pelita pada zaman dahulu mempunyai fungsi yang kurang lebih sama dengan berbagai alat penerangan di zaman kita sekarang ini, yakni memampukan kita untuk melihat dan bekerja dalam kegelapan, membuat kita bisa melihat dengan lebih jelas, serta menjaga kita agar tidak tersandung dan jatuh. Seorang Kristen haruslah menjadi seorang pembawa cahaya untuk menghalau kegelapan dunia ini. Bagaikan sebuah kota yang berada di atas gunung yang tidak mungkin tersembunyi (Mat.5:14b), kita dipanggil untuk membuat semua orang melihat dengan jelas Kerajaan Allah dalam diri kita. Panggilan kita adalah untuk selalu berada di atas, untuk mengatasi dunia ini dan menerangi sebanyak mungkin orang melalui hidup dan karya kita, sehingga semua orang “melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga.” (Mat.4:16b)

Saudara-saudariku yang terkasih,

Dua tugas kerasulan yang disampaikan hari ini, sudah pasti menuntut dari kita suatu keberanian iman untuk menjalani hidup kita sebagai suatu kesaksian akan kebaikan Allah, suatu keberanian untuk menapaki pendakian hidup yang dipenuhi berbagai jerat perangkap dan marabahaya yang telah disiapkan oleh si jahat. Sebab, dengan menjadi garam, berarti kita merelakan diri kita untuk tenggelam dan larut dalam dunia dengan segala kejahatannya, suatu tugas yang menuntut pengorbanan diri untuk menjadi makanan bagi dunia. Untuk menjadi terang yang menerangi banyak orang, pastilah akan banyak penderitaan yang harus kita rasakan dan alami. Dalam tugas luhur ini, tidak ada ruang untuk cinta diri, tidak ada sesuatu yang boleh kita jadikan sebagai milik yang harus dipertahankan, sebab dimana hartamu berada disitulah hatimu berada. Hartamu adalah Kristus. Karena itu, kehendak Kristus haruslah menjadi kehendakmu, kerinduan Kristus haruslah menjadi kerinduanmu, kecintaan Kristus haruslah menjadi kecintaanmu, luka-luka Kristus haruslah menjadi luka-lukamu. Kamu dipanggil “untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu, selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1 Kor.2:2)

Hai para serdadu Kristus, lihatlah hidupmu! Lihatlah segala karya baik yang kamu lakukan!

Kamu yang seorang dokter, tukang, biarawati, pembantu rumah tangga, karyawan, pengusaha, buruh, hakim, tentara, imam, seniman, arsitek, penyapu jalan, apapun karya yang engkau kerjakan, ada suatu rahasia suci di balik semua yang kalian lakukan, sesederhana apapun itu dalam pandangan dunia. Ketahuilah bahwa Allah hendak menyatakan Kerajaan dan kemuliaan-Nya melalui pekerjaaanmu. Izinkanlah dunia merasakan sentuhan rahamat Allah melalui kehadiranmu di tengah dunia. Berikanlah motif adikodrati pada pekerjaanmu, maka engkau akan menguduskan dirimu dan seluruh dunia. Itulah arti sejati dari menjadi garam dan terang bagi dunia. Jangan takut! “Orang jujur tidak pernah akan goyah, ia akan dikenang selama-lamanya. Ia tidak gentar akan kabar buruk, hatinya teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan.” (bdk.Mzm.112:4-7) Jadilah seorang rasul Kristus yang berani, dan tularilah dunia ini dengan kegilaan dan kecintaanmu akan Kristus.

Dalam melakukan kerasulan suci ini, setiap orang pasti akan memiliki kelemahan, rasa takut dan gentar. Tetapi, milikilah kerendahan hati untukmengakui semuanya itu, dan temukanlah kekuatan dalam Roh Tuhan, “supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah,” (1 Kor.2:5) suatu kekuatan yang selalu bisa kamu temukan dalam Ekaristi Kudus dan sakramen-sakramen suci lainnya, dalam ketekunan merenungkan firman Tuhan, dalam doa, puasa dan mati raga.

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu semua orang beriman, senantiasa menyertai kita dalam peziarahan iman dan kerasulan suci ini, sehingga sebagaimana Maria, yang selamanya menjadi hamba Allah yang setia, kita pun beroleh keberanian untuk selalu menjawab “Fiat voluntas tua” seumur hidup kita, sampai tiba saatnya Tuhan menentukan berakhirnya tugas kerasulan kita di dunia yang fana ini, dan memulai kerasulan yang baru kelak, di tanah air surgawi. ( Verol Fernando Taole )