Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Santa Maria Bunda Allah

Santa Maria Bunda Allah

Hari Raya Maria Bunda Allah

( Tahun Liturgi A – B – C )

 

Bacaan I – Bilangan 6: 22-27

Mazmur Tanggapan – Mazmur 66: 2-3.5.6.8

Bacaan II – Galatia 4: 4-7

Bacaan Injil – Lukas 2: 6-21

KANVAS YANG KOSONG

Kenapa harus Maria? Di saat seluruh dunia tenggelam dalam kemeriahan dan sukacita perayaan Tahun Baru, kenapa Gereja Katolik merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah? Apakah institusi yang telah berusia 2000-an tahun ini benar-benar menyembah Maria? Suatu pertanyaan yang menggeletik akal budi dan sikap beriman, bukan hanya bagi dunia, tetapi mungkin juga bagi beberapa warga Gereja. Bukankah Maria hanyalah manusia biasa yang rahimnya dipinjam Allah untuk melahirkan Putra Allah ke dunia? Tidak…sekali-kali tidaklah demikian.

Maria memang adalah manusia biasa, sama seperti kita. Dia terlahir dan dibesarkan oleh orang tuanya, pasangan Santa Anna dan Santo Yoakim, dalam sebuah keluarga, sama seperti kebanyakan dari antara kita. Kita juga bisa menemukan hidup yang dijalani oleh Maria di sekitar hidup kita sehari-hari. Tetapi, terlepas dari berbagai kesamaan hidup yang demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman bahwa ternyata di balik segala hal yang biasa dan sama dengan kita, ada suatu misteri iman teramat agung yang membuat hidup Wanita ini sungguh pantas dirayakan di awal tahun yang baru ini. Manakala Gereja menetapkan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah untuk dirayakan pada hari pertama dalam tahun, itu semata-mata karena dalam perayaan ini, Gereja menginginkan kita merayakan martabat dan panggilan luhur kita sebagai manusia. Maria memang adalah manusia biasa, namun bagaimana rahmat Allah bekerja dalam dirinya, dan bagaimana ia menanggapi kehendak Allah di sepanjang hidupnya, itulah yang menjadikannya luar biasa.

Sejak awal hidupnya, Maria telah dipenuhi rahmat dan dipilih secara isimewa oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah. Oleh karena itu, sejak dalam kandungan sampai wafatnya, Maria telah dibebaskan dari segala dosa. Bilaman Hawa, ibu dari semua yang hidup, membuat seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa, maka Maria tampil sebagai Hawa “Baru”, yang melahirkan Dia, Sang Penebus dosa seluruh umat manusia. Di sepanjang hidup Maria, kita dapat melihat suatu keteladanan beriman yang teramat patut dipuji, yang sanggup menyentuh hati Allah oleh “Fiat-nya”. Dialah satu-satunya manusia yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia menjawab “Tidak”, meskipun dengan menjadi Bunda Allah, dia sekaligus menjadi Bunda Dukacita. Melebihi semua manusia yang pernah hidup, dia menjalani hidup sebagai hamba Allah, yang setia melalui malam-malam gelap, tenggelam dalam cinta yang menghanguskan.

Jika dikatakan bahwa sebagai seorang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi berkat Allah bagi banyak orang (bdk. Bacaan I), Maria sebenarnya telah lebih dahulu melakukannya. Malahan, Maria tidak hanya sekedar menjadi berkat, melainkan lebih dari itu, dia melahirkan Sang Berkat, yakni Yesus Kristus, Imanuel. “Kita dilahirkan oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria,” demikian kata Santo Agustinus, seorang Uskup pada abad-5. Keteladanan iman Wanita suci ini, telah dipuji dan dirayakan oleh Gereja Perdana, selama 2000 tahun, jauh sebelum munculnya Reformasi pada abad-15. Karena itu, mereka yang membuang tradisi suci ini sebenarnya telah menyangkal kekayaan iman yang telah diwartakan dengan bangga, dan diwariskan sejak zaman para Rasul.

Dengan dasar-dasar iman inilah kita boleh memahami, bahwa sebenarnya Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, bukanlah perayaan akan Maria semata-mata, melainkan suatu perayaan keselamatan akan karya agung Allah. Gereja menampilkan bagi kita sosok teladan, warga Gereja yang paling bercahaya, hamba Allah yang paling setia, gambaran kesempurnaan Gereja. Bagaikan sebuah lukisan, Maria adalah lukisan terindah dari Allah, Sang Pelukis Yang Agung.

Hari ini Gereja mengundang kita, untuk melihat hidup kita masing-masing dalam diri Maria. Tahun-tahun kehidupan Maria telah dia jalani dalam cinta yang meluap-luap akan Allah, dalam kesetiaan tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas akan segala rancangan Tuhan. Bagaikan sebuah kertas kanvas yang kosong, Maria telah membiarkan hidupnya dilukis oleh Tuhan menjadi sebuah lukisan yang teramat indah. Lihatlah perayaan iman ini sebagai saat sentuhan rahmat bagi kita, untuk membiarkan Allah berkarya dalam tahun-tahun kehidupan kita, untuk membiarkan Sang Pelukis Agung melukiskan karya-Nya dalam kertas kanvas kosong kita masing-masing, agar sama seperti Maria, kita boleh menjadi lukisan yang indah bagi kemuliaan Allah,sehingga semua orang boleh berseru, “Ya Abba, Ya Bapa.” (Gal. 4: 6c)

Selamat menjalani Tahun yang baru. “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil. 6: 23-26) – fernando

Tinggalkan komentar