Bertobatlah…!

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Katolik Ortodoks

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Ortodoks

 

MINGGU BIASA III (TAHUN LITURGI – A)

Bacaan I – Yesaya 8: 23b – 9: 3

Mazmur Tanggapan – Mzm.27: 1, 4, 13-14

Bacaan II – 1 Korintus 1: 10-13.17

Bacaan Injil – Matius 4: 12-23

Bertobatlah…!

Hari ini Injil menceritakan kepada kita bagaimana Yesus, sesudah penangkapan Yohanes Pembaptis, melangkahkan kaki-Nya keluar dari wilayah Yerusalem dan Yudea, untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah di daerah Galilea, yang pada masa itu dianggap sudah kehilangan kemurnian sebagai tanah perjanjian, dan sudah berbau kafir. Tindakan Yesus ini merupakan tindakan profetis yang telah dinubuatkan oleh Yesaya, bahwa Mesias, Putra Allah, sekarang tampil sebagai pembebas untuk membawa cahaya pengharapan dan menghalau kegelapan. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes.9:1 & Mat.4:16)

Untuk itulah Gereja ada. Gereja bagaikan sebuah sakramen keselamatan. Sama seperti para murid yang pertama, Gereja diutus di tengah dunia untuk menjadi penjala manusia (bdk.Mat.4:19), untuk membawa cahaya Kristus ke dalam kegelapan. Akan tetapi, Gereja hanya bisa secara sempurna menjalankan karya Ilahi, bilamana ia sungguh menyadari bahwa kekuatannya berasal dari kesatuannya dengan Kristus, Sang Mempelai. Gereja dipanggil untuk masuk dalam persatuan cintakasih Allah Tritunggal Mahakudus, untuk bisa mendatangkan api cinta yang nantinya membaharui muka bumi. Ia harus senantiasa setia pada pengakuannya akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan.

Inilah yang diingatkan oleh Rasul Paulus, yang dengan tegas mengingatkan Gereja di Korintus bahwa perpecahan akan mengaburkan kesatuan Gereja dengan Kristus. Paulus, yang oleh rahmat Allah, telah dijatuhkan dari kuda, sungguh-sungguh memahami bahaya keangkuhan dan kegagalan mendengarkan suara Tuhan. Suatu bahaya yang dapat membuat kita terpecah-belah dan mengaburkan wajah Allah dalam diri Gereja-Nya. Perbedaan akan selalu ada, tetapi kita senantiasa diingatkan agar tidak melihatnya sebagai pembenaran untuk terpisah satu dengan yang lain. Perbedaan seharusnya dilihat sebagai cara Roh Kudus menyatakan diri-Nya dalam berbagai bentuk, cara, dan situasi. Timur atau barat, karismatik atau tradisional, konservatif atau liberal, apapun label yang tercipta, tidaklah boleh memisahkan kita satu dengan yang lain. Gereja haruslah selalu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Bilamana Gereja sungguh-sungguh berakar dalam Kristus, serta memahami kesatuan sejati hanya ada dalam misteri Ekaristi, ia akan menemukan keluhuran panggilannya untuk memecah-mecahkan diri secara benar, sehingga dapat memberi mereka (dunia) makan. Seruan Injil hari ini, menjadi seruan mendesak dari Allah bagi Gereja, “Bertobatlah…!” (bdk.Mat.4:17)

Bunda Gereja saat ini memasuki masa tergelap sejak berdirinya. Perpecahan yang melukai kesatuan Tubuh Mistik Kristus, persaingan akan kekuasaan yang mengalahkan semangat melayani, skandal dan berbegai kemerosotan hidup beriman yang teramat menyedihkan, diperparah dengan kenyataan bahwa saat ini, ia sedang berziarah di tengah dunia yang semakin memalingkan wajah-Nya dari Allah.

Dalam situasi demikian, masa depan Gereja tergantung sepenuhnya pada seberapa dalam ia setia menghidupi kemurnian dan kepenuhan imannya akan Kristus. Masa sulit ini tidak akan melenyapkan Gereja, tetapi akan memurnikan Gereja, sama seperti yang pernah terjadi di masa lampau. Sudah pasti proses kristalisasi dan klarifikasi ini akan menghabiskan banyak tenaga yang dimiliki oleh Gereja, akan tetapi, bagaikan suatu “malam pemurnian”, pada akhirnya ini akan akan menjadikan Gereja kembali menjadi putri kemiskinan, yang lemah lembut dan rendah hati.

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Akan tiba saatnya, bahwa sesudah pemurnian ini, suatu daya hidup sebagaimana jemaat perdana akan muncul kembali dalam Gereja yang semakin spiritual dan sederhana, yang telah menemukan kembali makna kesatuan sebagai putra-putri Ekaristi, yang dengan bangga merangkul salib. Bilamana dunia kemudian tersadar betapa jauhnya ia telah jatuh dalam jurang kesepian, dan bilamana dunia telah menyadari kegagalan tatanannya yang bertentangan dengan karya Allah, pada waktu itulah ia akan menemukan dalam Gereja yang telah dimurnikan, sebuah komunitas orang-orang beriman yang seolah baru baginya, sebagai suatu tanda pengharapan yang memberi makna dalam hidup mereka, sebagai sebuah jawaban yang selama ini mereka cari. Itulah saat yang membahagiakan dan mendatangkan sukacita, dimana di dalam Gereja, dunia akan menemukan wajah Allah.

Semoga Santa Perawan Maria, bunda Gereja, senantiasa menuntun Gereja pada kemurnian Injil, agar semakin sempurna bersatu dengan Kristus, Putranya. ( Verol Fernando Taole )

 

Kebahagiaan Yang Kita Cari Memiliki Sebuah Nama

Seeking God

Manusia senantiasa mencari TUHAN

MINGGU BIASA II (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Yesaya 49: 3.5.6

Mazmur Tanggapan – Mzm 40: 2. 4ab. 7-8a. 8b-9. 10

Bacaan II – 1 Korintus 1: 1-3

Bacaan Injil – Yohanes 1: 29-34

 

KEBAHAGIAN YANG KITA CARI MEMILIKI SEBUAH NAMA

“Aku rindu menanti-nantikan Tuhan…Ia membuat aku melagukan madah baru untuk memuji-muji nama-Nya.” (Mzm.40: 2a.4ab) Demikianlah pemazmur menungkapkan cintanya kepada Tuhan. Cinta yang dipenuhi kerinduan. Suatu kerinduan akan Allah yang kemudian diberi nama “Agama”. Darimana kerinduan ini berasal? Allah sendirilah yang telah menaruh ke dalam hati kita, kerinduan untuk mencari dan menemukan-Nya. Santo Agustinus dari Hippo berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Kerinduan ini diberikan-Nya bagi kita, agar kita senantiasa mencari Dia dalam cinta, sehingga manakala pada akhirnya menemukan Dia, hati kita akan meluap dalam kebahagiaan yang tak terkatakan.

Untuk menjawab kerinduan manusia, dalam belas kasih-Nya yang teramat besar, Allah berkenan mengungkapkan diri-Nya dengan berbagai cara. Di masa lampau, Ia menyapa kita dengan perantaraan para Nabi, namun pada zaman akhir ini, Ia menyapa kita dan membiarkan kita menemukan dia dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya. “Kebahagiaan yang kamu cari, kebahagiaan yang berhak kamu nikmati, memiliki nama dan wajah, yaitu Yesus dari Nazaret,” demikian kata Paus emeritus Benediktus XVI.

Ribuan tahun yang lalu, secara tersamar Allah telah memperkenalkan kedatangan Putra-Nya kepada umat-Nya melalui nubuat Nabi Yesaya akan Hamba Yahwe. Hamba Yahwe ini, yakni Yesus Kristus, akan membawa para bangsa pada pengenalan akan Allah secara sempurna, dan menghantar umat Allah dari kegelapan kepada cahaya Ilahi. (Bdk.Yes.49:5-6) Di dalam Dia, manusia akan menemukan keagungan Allah, jawaban atas kerinduan mereka. Di dalam Dia, semua orang percaya akan dikuduskan sebagai milik-Nya, umat kesayangan-Nya. Demikianlah Paulus mengungkapkan anugerah agung ini, dalam salamnya kepada jemaat di Korintus. (Bdk.1Kor.1:2) Lebih jauh lagi, dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes Pembaptis menyebut Yesus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Bdk.Yoh.1:29b) Pada saat itu, Yohanes Pembaptis secara resmi memperkenalkan kepada dunia siapa Yesus, dan sekaligus mengungkapkan rancangan keselamatan Tuhan dalam Hamba penderita ini.

Misa Tridentine

Misa Tridentine

Oleh karena itu, hari ini Gereja mengajak kita semua untuk memandang Anak Domba Allah, Sumber Kebahagiaan dan Sukacita kita. Dalam diri Yesus, Allah tidak hanya memperkenankan kita memandang dan menemukan Dia. Dalam diri Yesus, Sang Anak Domba Allah, Allah sendiri mengurbankan diri-Nya, dan untuk menebus dosa kita serta memulihkan relasi cinta kita dengan-Nya, yang telah dirusak oleh dosa melalui tipu muslihat si jahat. Kurban Suci inilah yang dianugerahkan-Nya kepada Gereja sebagai sumber kebahagian dan sukacita sejati. Inilah anugerah terindah yang setiap hari kita rayakan dalam Misa Kudus, yakni bahwa Allah bukan hanya berkenan untuk dicari, ditemukan, dan dipandang, melainkan lebih dari itu, Dia berkenan menjadi kurban pepulih dan santapan surgawi bagi kita, agar kita mengambil bagian secara sempurna dalam kemuliaan-Nya. Dalam Misa Kudus, Sang Kebahagiaan Sejati ini, memiliki sebuah nama yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Gereja, dan yang telah menjadi sumber hidup Gereja sejak berdirinya sampai akhir akhir zaman nanti. Itulah Ekaristi.

Setiap hari, anda dan saya dapat menemukan Dia dalam Ekaristi. Dengan menyantap Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya, kita menjadi satu dengan Dia, sekaligus menemukan keutuhan kita dalam kesatuan dengan Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Karena itu, setiap orang yang menjauhkan diri dari Ekaristi, sebenarnya menjauhkan diri dari Allah, dan memisahkan diri dari kesatuan dengan seluruh Gereja. Betapa malangnya hidup yang demikian. Tidak ada sengsara yang lebih mengerikan daripada keterpisahan dengan Kristus, Sang Sumber Hidup.

Cintailah Misa Kudus. Datanglah menyambut Tubuh dan Darah Tuhan setiap hari.  Dia selalu merindukan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam kurban Ekaristi. Inilah sumber dan daya hidup Gereja. Inilah obat Ilahi yang memulihkan kemanusiaan kita, sekaligus menyempurnakan ke-Ilahi-an kita. Inilah sumber kekuatan yang memampukan kita untuk mengasihi dan melayani, sehingga sebuah keluarga dapat senantiasa bersekutu dalam doa serta saling mengasihi, seorang Imam dapat menjadi gembala yang baik bagi domba-dombanya, seorang suster/biarawati dapat merawat para penderita kusta dengan penuh cinta, seorang hakim dapat menolak suap dan memutuskan perkara dengan adil, seorang pemuda dapat mengatakan tidak pada narkotika dan obat-obatan terlarang, serta pasangan suami-istri dapat tetap setia dalam Sakramen Pernikahan di tengah segala badai pergumulan hidup. Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Ekaristi, senantiasa menemani kita dalam peziarahan di dunia ini, dan menghantar kita pada pengenalan akan Allah secara sempurna, sehingga kita boleh bersatu dengan Sang Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia. ( Verol Fernando Taole )

Bapa Suci Paus Fransiskus mengangkat 19 Kardinal baru

Dewan Kardinal. Mereka adalah para Pangeran Gereja.

Dewan Kardinal. Mereka adalah para Pangeran Gereja.

Bapa Suci Paus Fransiskus hari ini telah memaklumkan 19 Uskup untuk diangkat menjadi Kardinal/Pangeran Gereja, dalam Konsistori pada tanggal 22 Februari nanti. Dari nama-nama yang diumumkan tersebut, 16 orang berusia di bawah 80 tahun, sementara 3 orang lainnya berusia di atas 80 tahun.

Dalam Gereja Katolik, para Kardinal dihormati sebagai Pangeran Gereja, karena hanya dari antara merekalah yang boleh dipilih menjadi Paus. Selain itu, hanya para Kardinal berusia di bawah 80 tahun yang boleh mengikuti Konklaf (Pemilihan Paus), sementara para Kardinal yang berusia di atas 80 tahun kehilangan hak memilih, tetapi masih bisa dipilih menjadi Paus. Berikut ini adalah 19 nama para Kardinal yang baru terpilih, beserta posisi mereka saat ini:

Pietro Parolin, Uskup Agung Tituler Acquapendente, Sekretaris Negara Tahta Suci Vatikan.

Lorenzo Baldisseri, Uskup Agung Tituler Diocleziana, Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup.

Gerhard Ludwig Mueller, Uskup Agung – Uskup emeritus Regensburg, Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman/Propaganda Fide (Kantor Suci).

Beniamino Stella, Uskup Agung Tituler Midila, Prefek Kongregasi untuk para Klerus.

Vincent Nichols, Uskup Agung Westminster, Inggris.

Leopoldo Jose Brenes Solorzano, Uskup Agung Managua, Nikaragua.

Gerald Cyprien Lacroix, Uskup Agung Quebec, Kanada.

Jean – Pierre Kutwa, Uskup Agung Abidjan, Pantai Gading.

Orani Joao Tempesta O.Cist., Uskup Agung Rio de Janeiro, Brasil.

Gualtiero Bassetti, Uskup Agung Perugia – Citta della Pieve, Italia .

Mario Aurelio Poli, Uskup Agung Buenos Aires, Argentina.

Andrew Yeom Soo jung, Uskup Agung Seoul, Korea Selatan.

Ricardo Ezzati Andrello SDB, Uskup Agung Santiago del Cile, Chili .

Philippe Nakellentuba Ouedraogo, Uskup Agung Ouagadougou, Burkina Faso.

Orlando B. Quevedo OMI, Uskup Agung Cotabato, Filipina.

Chibly Langlois, Uskup Les Cayes, Haiti.

Loris Francesco Capovilla, Titular Uskup Agung Mesembria.

Fernando Sebastian Aguilar CMF, Uskup Agung emeritus Pamplona.

Kelvin Edward Felix, Uskup Agung emeritus Castries.

Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ., Uskup Agung emeritus Jakarta

Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ., Uskup Agung emeritus Jakarta

Dengan demikian, jumlah Kardinal saat ini bertambah menjadi 218 orang (113 Kardinal di bawah 80 tahun, dan 105 Kardinal di atas 80 tahun). Setengah dari para Kardinal (50%) berasal dari Eropa, sedangkan sisanya berasal dari Asia, Afrika, Oceania, Australia, dan Amerika.

Dari Gereja Katolik Indonesia sendiri, baru 2 orang yang terpilih menjadi Kardinal dari Indonesia. Pertama, Alm. Kardinal Justinus Darmojuwono Pr., Uskup Agung emeritus Semarang, yang meninggal 3 Februari 1994. Kedua  adalah Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ., Uskup Agung Emeritus Jakarta, yang kini telah berusia 79 tahun. Semoga di kesempatan lainnya, Bapa Suci berkenan mengangkat Kardinal dari Indonesia.

Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan

Baptism of Jesus

Baptism of Jesus

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Yesaya 42: 1-4, 6-7

Mazmur Tanggapan –  Mzm. 29: 1a, 2, 3ac-4, 3b, 9b-10

Bacaan II – Kisah Para Rasul 10: 34-38

Bacaan Injil – Matius 3: 13-17

MEMANDANG TUHAN DALAM KEMANUSIAAN

Kasih adalah kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang begitu kuat. Bagaikan tetesan air yang secara yang sekilas terlihat begitu lembut dan tak berdaya, tetapi seiring waktu sanggup menciptakan lubang pada sebuah batu, demikianlah di sepanjang sejarah umat manusia kita melihat, bahwa meskipun kehadiran “si jahat” begitu nyata dalam begitu banyak kekacauan, peperangan, kematian, kemiskinan, ketidakadilan dan berbagai bentuk manifestasi lainnya, pada akhirnya Kasih selalu menjadi cahaya menyilaukan untuk menghalau kegelapan.

Tentu saja pada akhirnya, Kasih akan selalu menang atas dunia, karena sejak awal mula dunia ini tercipta oleh Kasih, yakni Allah sendiri. Kasih Allah ini semakin nyata saat Pencipta menjadi ciptaan, ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, Putra-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Dalam terang iman inilah, Gereja mengakhiri Masa Natal dengan merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dalam peristiwa Pembaptisan Tuhan, misteri Inkarnasi terlihat semakin jelas ketika Tuhan menjawab keheranan Yohanes, yakni bahwa Ia mengosongkan diri dengan masuk ke dalam air, sehingga ketika keluar dari air, Ia memenuhi diri-Nya dengan penggenapan akan seluruh kehendak Allah. Bagi orang lain pada waktu itu, pembaptisan Yohanes di sungai Yordan merupakan pembaptisan pertobatan. Akan tetapi, saat Tuhan kita merendahkan diri dengan turun ke dalam air untuk dibaptis, Dia membawa seluruh dosa umat manusia untuk ditenggelamkan dalam samudera belas kasih Allah. Itulah saat dimana  Allah memulai suatu perjanjian baru dengan umat-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya yang terkasih. Dalam peristiwa pembaptisan Tuhan ini, secara samar-samar kita mulai melihat misteri Salib, yang merupakan paripurna dari tindakan kasih Allah.

Hari ini Gereja merenungkan saat dimana “Hamba Yahwe” memulai tugas perutusan-Nya, seperti telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan I. Seorang hamba yang berkenan di hati Tuhan. Roh Allah dalam rupa burung merpati disertai suara dari surga, menjadi pernyataan yang tak terbantahkan bahwa Yesus sungguh adalah Putra Allah. Dialah yang diurapi dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, sebagaimana dinyatakan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul, untuk menyatakan pada dunia bahwa Allah sungguh beserta kita. Hari ini seluruh penghuni surga memadahkan mazmur pujian untuk memuliakan Allah, yang telah mengutus Putra-Nya.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk memandang Tuhan dalam kemanusiaan. Dalam misteri Pembaptisan Tuhan, kita boleh melihat betapa berharganya kita di dalam hati Allah. Betapa Tuhan tidak pernah melupakan kita, meskipun kita telah melupakan Dia. Betapa Ia tetap mencintai kita, meskipun kita telah berhenti mencintai Dia.

Hari ini Gereja kembali mengingatkan keluhuran martabat kita sebagai putra-putri Allah, yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan, untuk menjadi Imam, Nabi dan Raja. Pesta Pembaptisan Tuhan juga merupakan  suatu seruan Gereja bagi kita untuk bertobat, untuk meninggalkan segala yang bukan Allah, dan memenuhi diri kita dengan segala hal yang menyenangkan hati Allah. Kita dipanggil untuk bersama Yesus tenggelam dalam lautan belas kasih Allah, sehingga kita boleh keluar sebagai putri-putri Allah yang bermandikan cahaya kemuliaan. Untuk menjawab panggilan ini, sudah pasti ada yang harus dikorbankan, ada yang harus dilepaskan, malahan bagi beberapa orang, dia harus melepaskan semua hal yang terdekat di hatinya. Suatu malam pemurnian yang dapat menghanguskan baik tubuh maupun jiwa.

Namun, ketahuilah ini! Dengan berbagai tawarannya, dunia saat ini telah menipu dan membutakan banyak orang, dengan berbagai berhala-berhala yang dengan angkuhnya menjanjikan kesempurnaan bilamana manusia memilikinya. Pemujaan akan tubuh dan kecantikan yang membuat banyak orang jatuh dalam depresi serta keputusasaan, kapitalisme dan manipulasi pasar modal yang dengan kerakusan telah semakin memperlebar jurang antara kaum miskin dan golongan kaya, berbagai bentuk investasi masa depan yang membuat kita tidak lagi merindukan surga, kehausan akan kekuasaan dan kesuksesan di berbagai bidang serta profesi kerja yang membuat manusia menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan, dan berbagai berhala lainnya. Tentu saja tidaklah salah menginginkan suatu kehidupan dalam dunia yang lebih baik. Akan tetapi, Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa sekalipun kita memiliki semuanya, janganlah hati kita melekat pada semua hal itu. Sebagai seorang Kristiani, kita harus memiliki mata iman yang tajam, untuk melihat secara bijaksana. Saat ini si jahat mencoba meyakinkan kita, bahwa kesempurnaan kemanusiaan kita seolah-olah tergantung pada apa yang kita miliki, seakan-akan kepemilikan akan semua hal itulah yang membuat kita sempurna sebagai manusia.

Pahamilah ini! Kesempurnaan kemanusiaan kita hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Kesempurnaan kemanusiaan kita tidak terletak dalam memiliki segala, melainkan melepaskan segala. Apapun yang diletakkan Tuhan ke dalam tangan kita, jadikanlah semua itu sebagai kurban yang harum dan berkenan di hati Allah. Kesejatian hidup hanya bisa ditemukan di dalam panggilan untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. Sebagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi hamba-hamba Allah yang setia, yang mengingini apa yang Tuhan ingini, dan mencintai apa yang Tuhan cintai, untuk melihat segala yang kita miliki, bukan sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan dalam semangat pengosongan diri, mempergunakan semuanya itu bagi perluasan Kerajaan Allah. Semoga perawan Maria, putri ketaatan dan teladan pengosongan diri, menjadi Bintang Timur yang selalu membimbing dan mendoakan kita, untuk menjadi hamba yang setia dalam karya Allah di tengah dunia. (VFT)

Gadis Afganistan dipaksa oleh Kakak Kandungnya untuk melakukan aksi bom bunuh diri

Sulit dimengerti… 🙁

Sungguh menyesakkan dada pas nonton berita utama CNN & BBC hari ini.
Seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Afghanistan menjadi berita utama setelah ditangkap saat mengenakan rompi yang penuh rangkaian bom bunuh diri.

Gadis kecil ini disuruh melakukan aksi bom bunuh diri oleh kakak kandungnya sendiri, seorang pemimpin pemberontak muslim Taliban.

Betapa biadab dan jahatnya hati manusia saat ini, suatu fanatisme beragama yg secara sesat telah merusak keluhuran agamanya sendiri, menghujat ALLAH yang adalah KASIH, dengan hidup beriman yg keliru, berperilaku layaknya binatang.

Dapatkah pemahaman jihad yang keliru seperti melakukan bom bunuh diri, membunuh sesama manusia (termasuk yang se-agama), melarang wanita mengenyam pendidikan, dan berbagai kekejian lainnya, dapatkah perilaku-perilaku keji demikian beroleh ganjaran kemuliaan surga?

Bagaimana mungkin suatu agama menjadi rahmat bagi alam semesta, jika yang dilakukan pengikutnya justru merusak alam semesta dan menghancurkan kehidupan?

View on Path

Surat dari Bapa Prelat (Januari 2014)

Surat dari Bapa Prelat (Januari 2014)

 

Bapa Prelat menganjurkan kita untuk berusaha menghayati persaudaraan dengan semua orang, yang telah diciptakan sebagai gambaran dan citra Allah, dan yang telah diselamatkan oleh Kristus.

06/Januari/2014

Anak-anakku terkasih: semoga Yesus menjaga putra-putriku!

Masih bergaung dalam jiwa kita dan di seluruh dunia kata-kata para malaikat kepada para gembala di Betlehem, yang kita renungkan dalam masa Natal:   Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. [1] Kemuliaan Allah melalui inkarnasi dan kelahiran Putra-Nya yang tunggal terkait erat dengan perdamaian dan persaudaraan antara manusia. Jika kita dapat dan harus menganggap diri kita semua sebagai saudara-saudara,  khususnya ini adalah karena kita semua adalah anak-anak dari Bapa yang sama, yaitu Tuhan Allah, yang menciptakan kita sebagai citra-Nya. Sabda ilahi, dengan menjelma menjadi manusia sebagai Kepala dari seluruh umat manusia, telah menyelamatkan kita dari dosa, memberi kita karunia keputraan ilahi melalui adopsi. Ini adalah berita yang besar yang diumumkan oleh malaikat di Betlehem tidak hanya bagi umat Israel, tetapi bagi seluruh umat manusia:   lihatlah, aku menyampaikan kabar baik dari sukacita besar yang akan datang untuk semua orang. [2]

Yesus dalam pelukan Bunda Maria di bawah pandangan penuh perhatian dari Santo Yusuf, memenuhi pikiran kita pada hari-hari raya suci ini. Pada saat kita melihat dengan penuh perhatian pada Anak yang tak berdaya, Pencipta langit dan bumi, Firman Allah yang kekal yang telah membuat dirinya sama dengan kita dalam segala hal kecuali dosa, [3]   kita bersujud dan bersyukur karena menyadari bahwa kita tidak akan mampu membalas kasih-Nya yang begitu besar kepada kita.Di tahun baru dan selalu, mari kita menanggapi ajakan St Josemaria: ut in gratiarum semper actione maneamus.Mari kita terus bersyukur, untuk semua karunia yang Allah telah dan akan berikan kepada kita: karunia yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, yang besar dan kecil, spiritual dan material, karunia yang membawa sukacita maupun yang mungkin meninggalkan jejak kesedihan. Bersama Bapa Pendiri kita saya katakan dan juga untuk diri saya sendiri: marilah kita bersyukur “atas semuanya, karena semuanya baik.” [4]

Kita memulai bagian kedua dari waktu Natal dengan Hari Raya Bunda Maria. Pandangan kita sekarang berbalik dengan penuh perhatian pada insan ciptaan yang tiada bandingnya, yang dengan kesederhanaan yang begitu besar -ecce Ancilla Domini [5] -telah membuka jalan untuk penjelmaan Sabda Allah menjadi manusia dan membuat kami anak-anak Allah dalam Yesus Kristus, saudara dan saudari dengan suatu ikatan persaudaraan yang lebih kuat dari ikatan yang ada karena kita semua berasal dari Adam dan Hawa. “Bunda, ya Bunda! Dengan kata Bunda -fiat- engkau telah membuat kami saudara Allah dan ahli waris kemuliaan-Nya.Terpujilah engkau. ” [6]  Dengan demikian salah satu dari aspirasi yang paling dalam dari hati manusia telah terwujud: ” kerinduan pada rasa persaudaraan, yang tidak dapat ditahan lagi, yang membawa kita untuk bersatu dengan orang lain dan yang memungkinkan kita untuk melihat mereka bukan sebagai musuh atau saingan, melainkan sebagai saudara dan saudari untuk diterima dan dirangkul . ” [7]

Mencintai sesama dengan kasih persaudaraan sejati adalah salah satu karakteristik yang esensial dari pesan Kristiani. Yesus sendiri menekankan hal ini kepada para rasul-Nya:   Aku memberi perintah baru kepada kamu, bahwa kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid saya, jika Anda memiliki cinta untuk satu sama lain. [8] Dan sebagaimana Bapa Pendiri kita mengatakan: “Kita harus menyalakan kembali rasa persaudaraan yang dirasakan dalam-dalam oleh umat Kristiani perdana” [9]  Engkau dan aku, apakah kita sungguh-sungguh melakukannya? Apakah kita berdoa dengan sungguh-sungguh bagi semua orang, pria dan wanita? Apakah kita menaruh perhatian atas kehidupan mereka?

Perintah Tuhan yang baru itu membantu kita untuk memahami bahwa persaudaraan Kristiani tidak dapat dianggap sebagai sekadar solidaritas saja. Persaudaraan bukan hanya soal karakter yang sama, bukan juga soal kepentingan bersama, atau kesukaan yang sama. Persaudaraan harus memacu kita untuk menemukan Kristus dalam diri orang lain; bahkan lebih dari itu, membawa kita makin menjadi seperti Dia, sampai kita dapat menyatakan bahwa kita adalah alter Christus, Kristus yang lain;  ipse Christus,   Kristus sendiri. Hasrat ini harus diwujudkan dalam mengasihi dan melayani sesama manusia, sebagaimana Tuhan melayani dan mengasihi mereka.

Kedua aspek ini- melihat Kristus dalam diri orang lain dan membuat Kristus tampak dalam diri kita-harus melengkapi satu sama lain. Dengan demikian kita menghindari resiko mencintai orang-orang di sekitar kita hanya karena nilai diri mereka dari segi manusiawi, karena sifat-sifat mereka yang baik, karena keuntungan yang kita dapatkan dari mereka, dan kemudian kita menyisihkan mereka ketika melihat kekurangan dan keterbatasan mereka, yaitu aspek yang kurang menyenangkan dari pribadi mereka Jika godaan seperti itu muncul, kita perlu memandang TuhanYesus, lemah lembut dan rendah hati, yang menyerahkan hidupnya di setiap saat dan pada setiap kesempatan bagi kita, yang tidak menolak siapa pun, yang mencari-cari para pendosa untuk membawa mereka kembali kepada Allah.

Persaudaraan ini berasal dari iman dan dari kebebasan pribadi kita. “Kebebasan Kristiani berasal dari dalam, dari dalam hati, dari iman. Namun itu bukan sesuatu yang bersikap pribadi melulu, melainkan harus terungkap secara eksternal. Salah satu tanda yang paling jelas dari kehidupan umat Kristiani perdana adalah persaudaraan. Iman, yang membawa karunia besar kasih Allah, telah memperkecil dan mengatasi semua perbedaan, semua hambatan:   Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada budak atau orang bebas, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus   (Gal  3:28).Mengetahui bahwa kita benar-benar saudara, dan saling mengasihi sebagai saudara, di atas perbedaan ras, kondisi sosial, budaya atau ideologi, adalah hakikat Kristianitas. ” [10]

Dalam karya evangelisasi pertama yang dilaksanakan setelah kenaikan Tuhan ke surga, kasih persaudaraan (khususnya pada orang yang paling membutuhkan, secara fisik maupun spiritual, dan bahkan pada orang-orang yang menganiaya) adalah salah satu elemen pokok dalam penyebaran Kristianitas yang berlangsung begitu cepat. “Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi,” Tertullianus menulis apa yang dikatakan orang-orang kafir, kagum pada pesan Kristus.  Dan dia menambahkan: “Lihat bagaimana umat Kristen siap mati demi sesama, sementara orang lain, sebaliknya, siap untuk saling membunuh.” [11]

Komunikasi antara orang-orang tidak pernah semudah dan secepat di zaman kita ini. Kenyataan ini harus meningkatkan rasa persatuan di antara umat manusia. Namun, seperti Paus Benediktus XVI menulis: “Dengan globalisasi masyarakat, kita, manusia menjadi tetangga tetapi itu tidak membuat kita menjadi saudara. Akal budi dengan sendirinya mampu menangkap kesamaan antara manusia dan mampu memberi stabilitas pada hidup dalam masyarakat, namun tidak dapat membangun rasa persaudaraan. Rasa persaudaraan ini berasal dari suatu panggilan yang transenden dari Allah Bapa, yang mengasihi kita terlebih dahulu, dan mengajar kita melalui Putra-Nya arti kasih persaudaraan . “ [12]

St Josemaría mengajar tanpa lelah, seperti yang telah saya katakan, tentang pentingnya  mandatum novum,  yang ia minta untuk diukir pada sebuah papan di sebuah rumah kegiatan Opus Dei yang pertama, DYA Academy, delapan puluh tahun yang lalu.Tetapi sejak di rumah orang tuanya, ia telah belajar untuk melayani sesama dan melupakan diri sendiri. Teladan Kristiani dari orang tuanya telah membantu mengukir dalam hatinya -pertama sebagai anak kecil dan kemudian sebagai seorang remaja dan pemuda- semangat persaudaraan terhadap semua orang, yang ditunjukkan dalam perbuatan: memberi sedekah kepada yang membutuhkan, membantu teman-temannya dalam studi mereka, selalu bersedia membantu untuk kebutuhan rohani orang lain….

Semua ini dan banyak lagi pelajaran-pelajaran dari hidup St Josemaria dapat membantu kita untuk mempersiapkan dengan lebih baik pesta peringatan hari lahirnya pada tanggal 9 Januari. Tanggal itu mengingatkan kita bahwa Tuhan memilih St Josemaría untuk menjadi seorang bapa dan patriark dari keluarga spiritual Opus Dei (keluarga yang melintasi ras, bahasa dan kebangsaan) yang lahir dalam pangkuan Gereja. Dengan kebapaannya, dijiwai oleh kasih sayang dan pengabdian diri, Bapa Pendiri kita menunjukkan kepada kita sepercik sinar dari kebapaan Allah terhadap seluruh umat manusia, yang juga mengajar kita untuk menjadi anak-anak Allah yang baik dengan menjalani persaudaraan dalam Karya dan dengan semua orang, pria dan wanita.

Paus Fransiskus mendedikasikan pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia pada topik yang sama. Kata pembukaannya sangat penting, seperti yang telah saya tunjukkan ketika mengingat kehidupan Pendiri kita. “Persaudaraan,” kata Bapa Paus,   pada umumnya kita alami pertama kali dalam keluarga, terutama berkat peran yang bertanggung jawab dan saling melengkapi dari setiap anggota keluarga, khususnya ayah dan ibu.Keluarga adalah sumber dari semua persaudaraan, dan karena itu adalah dasar dan jalan pertama menuju kedamaian. ” [13]

Semuanya yang dilakukan demi mendukung keluarga-membela hakikatnya berdasarkan rencana ilahi, persatuan dan sikap terbuka terhadap hidup, panggilan utamanya untuk melayanani- memiliki dampak positif pada konfigurasi masyarakat dan pada hukum-hukum yang mengatur hal keluarga. Mari kita berdoa setiap hari bagi semua keluarga di dunia dan bagi para legislator, pada saat yang sama kita semua harus berusaha,sejauh kemampuan kita, untuk membela dan melindungi keluarga sebagai suatu lembaga alami yang sangat diperlukan bagi kesejahteraan masyarakat. Dan marilah kita berdoa terutama dalam bulan-bulan yang akan datang, bagi Majelis Luar Biasa dari Sinode para Uskup yang dihimpun Bapa Paus pada bulan Oktober nanti untuk mempelajari cara yang terbaik untuk melaksanakan karya evangelisasi baru dalam kehidupan keluarga.

Hari-hari terakhir ini, merenungkan sekali lagi homili-homili Bapa Pendiri kita (saya menganjurkan kalian untuk sering kali kembali ke teks-teks itu, yang akan memperkaya kehidupan rohani kalian), perhatian saya tertarik pada beberapa kata yang mengekspresikan dengan jelas mengapa Kristus lahir. “Tuhan datang untuk membawa damai, kabar baik, dan hidup kepada semua orang. Tidak hanya untuk orang kaya, atau hanya orang miskin. Tidak hanya untuk orang bijaksana atau hanya untuk yang sederhana. Untuk semua orang, untuk saudara-saudara kita, kita sungguh saudara, anak-anak dari Bapa yang sama, Tuhan. ” [14]

Saling menganggap saudara dan saudari antar kita, dan bertindak sesuai dengan itu, adalah suatu karunia ilahi. “Dasar dari persaudaraan ini adalah kebapaan Allah sendiri. Kita tidak berbicara tentang kebapaan pada umumnya, yang tidak jelas dan secara historis tidak efektif, melainkan tentang kasih pribadi Allah yang spesifik dan sangat konkret pada setiap orang, pria dan wanita (lih.  Mt 6:25-30).Ini adalah kebapaan, yang secara efektif menghasilkan persaudaraan, karena kasih Allah, begitu ditanggapi, akan menjadi cara yang paling mengagumkan untuk mengubah hidup dan hubungan kita dengan orang lain, dan membuat kita terbuka untuk mengungkapkan solidaritas dan berbagi dengan tulus ikhlas .

Dalam cara tertentu,” Paus melanjutkan, “persaudaraan manusia dilahirkan lagi dalam dan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya.Salib adalah tempat dasar definitif dari suatu persaudaraan yang manusia tidak mampu menghasilkannya sendiri. Yesus Kristus, yang mengambil kodrat manusia untuk menebusnya, mengasihi Bapa sampai wafat di kayu salib (lih.  Phil   2:8), telah membuat kita menjadi ‘manusia baru,’ melalui kebangkitan-Nya dalam persekutuan penuh dengan kehendak Allah, dengan rencana-Nya, termasuk perwujudan penuh dari panggilan kita untuk persaudaraan. ” [15]

Karena itu adalah karunia Tuhan, membina persaudaraan juga membawa serta tugas yang Tuhan percayakan kepada kita semua, yang tidak dapat kita elakkan. Dengan realisme yang sehat, jauh dari pesimisme apapun, Bapa Pendiri kita menulis bahwa “hidup ini tidak seperti novel romantis. Persaudaraan Kristiani bukan sesuatu yang jatuh dari langit sekali dan untuk selamanya bagi semua orang, melainkan suatu realitas yang harus dibangun setiap hari, di tengah semua kesulitan hidup, dengan konflik-konfliknya, ketegangan dan perjuangan, dalam kontak sehari-hari dengan orang-orang yang menurut kita berpikiran sempit, dan dengan kepicikan kita sendiri” [16]

Saya juga ingin menyebut di sini Don Alvaro yang terkasih. Dalam arti tertentu, kita dapat menganggap tahun 2014 sebagai   tahun Don Alvaro,   karena pada bulan Maret kita akan memperingati seratus tahun kelahirannya dan kemudian kami berharap menghadiri, penuh dengan sukacita, perayaan beatifikasi nya.Di sini kita, putra dan putriku, kita memiliki motif baru untuk mengucap syukur kepada Allah dan ini juga suatu undangan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk perayaan yang besar itu. Marilah kita menghidupi lebih dalam semangat keputraan dan persaudaraan.

Kalian tahu bahwa Bapa Paus telah menerima saya di audiensi pada tanggal 23 Desember. Selain menyampaikan berkat apostolik kepada semua umat anggota Prelatur-awam dan imam, dan terutama yang menderita sakit- Bapa Paus mendorong kita untuk melanjutkan karya kerasulan di semua negara di mana umat anggota Prelatur Opus Dei tinggal. Secara khusus Paus mendorong kita untuk melaksanakan kerasulan   Pengakuan dosa , yang adalah sakramen Kerahiman Tuhan.

Setelah Hari Natal, saya melakukan perjalanan singkat ke negara di mana Yesus, Maria dan Yusuf pernah hidup. Selain mendorong saudara-saudari yang berkarya di sana, saya mengunjungi tempat di mana   Saxum, pusat untuk retret dan kegiatan lain sedang dibangun untuk mengenang Don Alvaro, seperti yang telah disepakati dalam Kongres Umum pada tahun 1994.Mari kita berdoa dengan tekun dan penuh semangat agar proyek ini dapat berjalan dengan ritme yang baik, dan marilah kita berusaha membantu, sesuai dengan keadaan kita masing masing, untuk mencari dana yang diperlukan. Begitu besar harapan saya akan buah-buah rohani yang akan dihasilkan oleh instrumen kerasulan ini!

Seperti biasa, ingin sekali saya (sekarang lebih-lebih lagi!) bersama kalian pada hari-hari raya ini. Saya melewati hari-hari ini dengan membawa kalian satu persatu ke tabernakel dan ke kandang Natal di center-center di Roma. Jangan lupa mempersembahkan semua intensi saya kepada Anak Allah. Saya telah menempatkan semua intensi kalian di kaki-Nya.

Dengan penuh kasih sayang, saya mengirim berkat untuk tahun yang baru,

+ Javier

Roma, 1 Januari 2014

Catatan:

[1]   Lk   02:14.
[2]   Lk   02:10.
[3]   Cf.   Ibr   04:15.
[4]   St Josemaría,   Jalan,   no.512.
[5]   Lk   01:38.
[6]   St Josemaría,   Jalan,   no.512.
[7]   Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2014, 8 Desember 2013, no.1.
[8]   Yoh   13:34-35.
[9]   St Josemaría,   Percakapan,   no.61.
[10]   St Josemaría, “Kekayaan Iman,” diterbitkan dalam   Los Domingos de ABC,   November 2, 1969.
[11]   Tertullianus,   Apologetica,   39, 7 (CCL 1, 151).
[12]   Paus Benediktus XVI, Ensiklik   Caritas in Veritate,   29 Juni 2009, no.19.
[13]   Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2014, 8 Desember 2013, no.1.
[14]   St Josemaría,   Kristus yang Berlalu,   no.106.
[15]   Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2014, 8 Desember 2013, no.3.
[16]   St Josemaría, “Kekayaan Iman,” diterbitkan dalam   Los Domingos de ABC,   November 2, 1969.