Para Teolog menanggapi pasangan Katolik yang bercerai

Gereja Katolik tidak mengenal Perceraian

Gereja Katolik tidak mengenal Perceraian

Roma, Italia , 18 Desember 2013 / 02:02 ( CNA / EWTN News) – Gereja Katolik harus menjangkau umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi agar mereka tahu mereka diterima, bahkan sekalipun mereka tidak dapat menerima sakramen-sakramen Gereja, demikian catatan para teolog.

Sean Innerst , Ketua Departemen Teologi  di Seminari Santo Yohanes Maria Vianney, Denver, mengatakan bahwa dia berharap untuk melihat “tanggapan kreatif dan menarik”, untuk membantu mereka yang bercerai maupun yang bercerai dan menikah lagi (secara tidak resmi/non-Sakramen), yang meyakini bahwa mereka sekarang hidup di luar persektutuan dengan Gereja.

“Mereka mungkin berada dalam situasi hidup dimana mereka tidak dapat (dilarang) menerima Komuni, tetapi itu tidak berarti mereka tidak dapat menghampiri pintu gereja,” katanya kepada CNA 5 November .

“Adalah tidak selaras dengan Injil membiarkan orang-orang ini untuk merasa bahwa mereka dikucilkan, karena mereka berada dalam situasi yang tragis dan rumit, yang mereka tidak bisa temukan jalan keluarnya.”

“Kita perlu memiliki beberapa tanggapan pastoral untuk situasi ini, dimana kita tidak membiarkan begitu saja orang untuk menjauh karena kesalahan serius yang mereka lakukan, karena budaya kita telah membawa mereka ke arah itu,” Innerst menekankan.

“Kita harus pergi keluar dan mencari orang-orang ini, dan membantu mereka memahami bahwa mereka memiliki tempat dalam Gereja.”

Uskup Agung Gerhard Ludwig Müller – Kepala Kongregasi Vatikan untuk Ajaran Iman (Kantor Suci) – menegaskan dalam sebuah esai yang dipublikasikan kembali di L’Osservatore Romano bulan Oktober, bahwa umat Katolik di persatuan perkawinan yang tidak sah (setelah perceraian), tidak dapat/dilarang menerima Komuni Kudus. Dia menggarisbawahi bahwa, meskipun demikian, adalah “penting” untuk memberikan “perhatian pastoral” bagi mereka.

Namun, banyak Uskup Katolik di Jerman mengatakan bahwa mereka berniat untuk memberikan Komuni Kudus (Perjamuan Kudus) bagi umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi, terlepas dari Ajaran Gereja.

Keuskupan Agung Freiburg pada bulan Oktober merilis sebuah dokumen yang mengatakan bahwa umat Katolik yang bercerai dan menikah lagi, dapat menerima Komuni Kudus jika mereka dapat menunjukkan pernikahan pertama mereka tidak dapat dipulihkan kembali, jika mereka menyesali dosa perceraian yang mereka lakukan, dan jika mereka memasuki “tanggung jawab moral yang baru” dengan pasangan baru mereka.

Dokumen itu mendapat tanggapan cepat dari Kongregasi untuk Ajaran Iman (Kantor Suci), yang menyatakan bahwa pendekatan pastoral tidak boleh bertentangan dengan Ajaran Gereja.

Terlepas dari penolakan tersebut, Uskup Gebhard Fuerst dari Stuttgart pada bulan November menyampaikan, dalam sebuah pertemuan Komite Pusat dari Umat Katolik Jerman, bahwa para Uskup Jerman telah menyusun panduan dan bertujuan untuk mengesahkannya pada pertemuan pleno mereka di bulan Maret 2014.

Minggu lalu, Kardinal Walter Kasper, anggota Kongregasi untuk Ajaran Iman, mengatakan kepada mingguan Jerman Die Zeit bahwa mereka yang bercerai dan kemudian menikah lagi akan segera diperbolehkan menerima sakramen-sakramen, situs berita Italia AGI laporan.

Ajaran Katolik hanya mengenal pembatalan pernikahan (bukan perceraian), yang memungkinkan pernikahan untuk dibatalkan, hanya jika mereka dapat menunjukkan bahwa pernikahan yang pertama tidak sah (cacat) menurut norma-norma Hukum Kanonik Gereja. Mereka yang hidup dalam persatuan tidak resmi hanya diperbolehkan menerima Komuni Kudus, jika mereka hidup dalam bentuk hubungan “kakak dan adik” dengan pasangan mereka.

Manfred Lutz , seorang psikolog Jerman dan teolog di Roma dalam rapat pleno Dewan Kepausan untuk Kaum Awam  mengenai “Memproklamirkan Kristus di Era Digital,” mengatakan bahwa ajaran dogmatis Gereja untuk umat Katolik yang bercerai dan kemudian menikah lagi, yang belum menerima “pembatalan” adalah “jelas”, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah perihal tanggapan pastoralnya.

Dia mengatakan kepada CNA 4 Desember bahwa dalam Gereja Katolik di Jerman orang awam “tidak semua sangat memahami mengenai posisi Gereja” dan beranggapan bahwa Gereja “kurang memiliki belas kasihan.” Ini adalah “masalah besar”, tidak hanya di Jerman tetapi “di seluruh dunia.”

Innerst setuju bahwa banyak umat Katolik tidak tahu atau kurang memahami Ajaran Gereja .

“Saya mengenal beberapa orang yang bercerai, dan tidak menikah lagi, dan mereka pikir mereka secara resmi telah dikucilkan dari Gereja. Tentu saja tidaklah demikian,” katanya. “Mereka merasa bahwa jika Anda melanggar sebuah aturan, Anda tidak lagi menjadi bagian dari Gereja.”

Dia mencatat bahwa banyak orang merasa bahwa segala sesuatu dalam ke-Katolik-an adalah “tentang hukum” dan menempatkan “hukum di atas kasih.”

Sementara Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI harus menetapkan pedoman untuk memperbaiki kelemahan dalam Gereja, Innerst mengatakan, Paus Fransiskus lebih fokus pada usaha untuk menekankan bahwa “Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

“Semua yang dikatakan oleh Paus Fransiskus adalah bahwa pertama-tama kita harus mulai mencintai orang-orang, barulah kemudian membawa mereka kepada … hukum.”

Jika orang lain melihat ke-Kristen-an sebagai “sumber kasih Allah”, maka umat Katolik dapat “mulai berbicara, tentang pertobatan dan mengubah kehidupan masyarakat sesuai dengan alam dan mengungkapkan hukum. Sebaliknya itu adalah kalah.”

Lutz mengatakan Paus Benediktus XVI juga menyadari bahwa pelayanan pastoral untuk bercerai dan menikah lagi Katolik sangat kurang. Umat Katolik harus “melihat bagaimana kita hidup di paroki bersama-sama dengan orang-orang ini”, sehingga mereka ” tidak diusir dari Gereja.”

Dia mengatakan bahwa “sangatlah penting ” untuk membantu orang-orang ini dan Paus Fransiskus bertujuan untuk membahas pelayanan pastoral ini pada Sinode Luar Biasa para Uskup di bulan Oktober 2014, yang didedikasikan untuk reksa pastoral keluarga .

Innerst menyarankan agar mereka yang bercerai dan menikah lagi harus menahan diri dari Komuni, dan memusatkan diri dalam doa dan pertobatan “bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai cara untuk menemukan makna dalam situasi tragis mereka saat ini.”

Ini akan menjadi sarana bagi mereka sambil menanti “saat ketika mereka bisa hidup sesuai dengan Ajaran Gereja . ” Ini adalah cara tepat untuk menanggapi,”tanpa membohongi mereka bahwa Paus dapat mengubah hal-hal yang beliau tidak bisa rubah.”

Paus Fransiskus ” tidak bisa menghapus Sakramen Pernikahan”, tapi dia bisa mengubah pendekatan Gereja, mengingat bahwa status quo “tidak berhasil.”

Innerst menduga bahwa permintaan Paus untuk masukan mengenai masalah ini dari Gereja di seluruh dunia merupakan upaya beliau untuk menemukan respon pastoral yang baik dan tepat untuk pasangan Katolik yang bercerai dan menikah lagi, bukan dengan “berpura-pura bahwa mereka tidak bercerai.”

Lutz mengatakan Gereja Katolik di Jerman atau Keuskupan masing-masing tidak dapat memutuskan hal ini begitu saja. Sebaliknya, respon ini harus diputuskan oleh Gereja Katolik “seluruh dunia.”

Dia mencatat bahwa banyak orang muda Katolik di Jerman menempatkan “nilai tertinggi” bagi “kesetiaan” dalam pernikahan .

“Jadi, orang-orang muda berharap bahwa mereka akan menikah untuk selamanya. Tapi ketika mereka ditanya apakah mereka berpikir bahwa mereka secara pribadi akan berhasil dalam hal ini, mereka mengatakan bahwa mereka tidak merasa demikian. Dan ini benar-benar menunjukkan bahwa sebenarnya mereka pesimis.”

( Alan Holdren menjadi kontributor berita ini )

Tinggalkan komentar