Surat dari Bapa Prelat Opus Dei ( November 2013 )

Opus Dei Prelate

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Bapa Prelat menegaskan bahwa merenungkan “hal-hal terakhir,” tentang kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal, akan memenuhi diri kita dengan sukacita karena kepercayaan akan kerahiman Allah yang tiada batasnya.

01/November/2013

Putra-putriku yang terkasih: semoga Yesus menjaga kalian semua !

Beberapa minggu lagi Tahun Iman akan berakhir. Bapa Suci akan menutup Tahun Iman pada Hari Raya Kristus Raja, tanggal 24 yang akan datang. Dalam rangka perayaan ini saya ingin mengajak kalian untuk membaca lagi beberapa kata yang ditulis oleh Bapa Pendiri kita dalam salah satu homilinya: “Bila kita mendaraskan syahadat, kita menyatakan bahwa kita percaya akan Allah Bapa Yang Mahakuasa, dan akan Putra-Nya Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit kembali, dan akan Roh Kudus, Tuhan dan Pemberi hidup. Kita menegaskan, bahwa Gereja satu, kudus, katolik dan apostolik, adalah Tubuh Kristus, dihidupi oleh Roh Kudus. Kita bersukacita atas pengampunan dosa dan atas harapan akan kebangkitan. Tetapi apakah kata-kata itu menembus ke dalam hati kita? Atau apakah kata-kata itu di bibir kita saja?[1]

Hari Raya Semua Orang Kudus yang kita peringati hari ini, dan peringatan semua arwah besok pagi, adalah suatu undangan untuk mengingat  tujuan hidup kita yang abadi. Perayaan-perayaan liturgi ini mencerminkan artikel terakhir dari Credo. ” Syahadat Kristen – pengakuan iman kita akan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta karya-Nya yang menciptakan, menebus, dan menguduskan – berpuncak pada pewartaan bahwa orang-orang yang mati akan bangkit pada akhir zaman dan bahwa ada kehidupan abadi”. [2]

Credo menringkaskan ‘hal-hal terakhir’ baik pada tingkat individu maupun kolektif-yang akan dialami setiap orang dan seluruh alam semesta. Akal budi manusia dapat menangkap, jika berfungsi dengan benar, bahwa setelah hidup kita di bumi ini, ada kehidupan “lebih lanjut” di mana keadilan yang begitu sering dilanggar di bumi ini akan ditegakkan kembali sepenuhnya. Tetapi hanya dengan terang wahyu ilahi, dan terutama melalui terang dari inkarnasi, wafat dan kebangkitan Kristus, kebenaran-kebenaran tersebut tampak lebih jelas, walaupun masih diselubungi oleh tabir misteri.

Berkat ajaran Tuhan Yesus, kenyataan-kenyataan akhir tidak lagi mengandung kemuraman dan makna yang fatal bagi banyak pria dan wanita sepanjang sejarah dan sampai sekarang juga. Kematian jasmani adalah kenyataan yang jelas untuk semua orang, namun dalam Kristus, kematian memperoleh makna yang baru. Kematian bukan hanya suatu konsekuensi dari hakikat suatu makhluk material, dengan badan yang cenderung hancur. Bukan juga, sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama, merupakan suatu hukuman karena dosa. St Paulus menegaskan:  bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan .Dan di lain tempat St Paulus menambahkan:   Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; [3]  ” Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristiani terdapat di dalam hal ini: Melalui Pembaptisan warga Kristiani secara sakramental sudah “mati bersama Kristus”, supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan “mati bersama Kristus” ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya: ” [4]

Gereja adalah Bunda kita. Gereja melahirkan kita kembali dalam air Pembaptisan, dan memberi hidup Kristus kepada kita, sekaligus janji akan kehidupan yang tak ada akhirnya di masa depan. Kemudian melalui sakramen-sakramen lain, terutama Sakramen Pengakuan dan Ekaristi Kudus, Bunda Gereja memastikan bahwa “menjadi” dan “berjalan” dalam Kristus akan selalu diperkuat dalam jiwa kita. Apa bila masa sakit parah tiba dan, terutama, pada saat ajal kita, Bunda Gereja sekali lagi akan berusaha untuk menguatkan putra dan putrinya melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Komuni dalam bentuk viaticum. Gereja memberi kita segala yang kita butuhkan agar kita dapat menghadapi, dengan pengharapan dan kedamaian yang penuh sukacita, perjalanan terakhir yang, dengan rahmat Allah, akan berakhir dalam pelukan Allah Bapa surgawi. St Josemaría, seperti banyak orang kudus sebelum dan sesudahnya, bila menjelaskan tentang kematian Kristiani, menulis dengan kata-kata yang jelas dan optimis: “Jangan takut akan kematian. Terimalah dari sekarang, dengan murah hati … apa bila Tuhan menghendaki, di mana saja dan bagaimana saja Tuhan menghendaki. Jangan ragu-ragu: kematian akan tiba pada saat, di tempat dan dengan cara yang terbaik: yang ditentukan oleh Allah-Bapa kita. Hendaknya kita menyambut kematian sebagai saudara kita! ” [5]

Terlintas dalam benak kita begitu banyak orang -pria dan wanita anggota Opus Dei, dan keluarga, kawan-kawan, dan kooperator- yang mungkin pada saat ini berada di titik penyerahan jiwa kepada Allah. Bagi mereka semua, saya mohon rahmat agar mereka meninggal dengan cara yang kudus, penuh dengan kedamaian, dan erat bersatu dengan Yesus Kristus. “Kebangkitan Tuhan adalah harapan yang tidak pernah gagal, yang tidak pernah mengecewakan (lih.Rom   5:5). Betapa sering harapan lenyap dalam hidup kita, betapa sering angan-angan yang kita miliki dalam hati sia-sia!  Namun, harapan kita sebagai umat Kristiani teguh dan tak tergoyahkan di dunia ini, di mana Allah telah memanggil kita untuk hidup. Dan harapan ini menuju ke keabadian karena bersandar pada Allah yang selalu setia. ” [6]

Dalam bulan yang didedikasikan bagi para umat yang telah meninggal dunia, saya sarankan kalian membaca dan merenungkan paragraf dari  Katekismus Gereja Katolik tentang hal-hal terakhir. Kalian akan menemukan dasar pengharapan dan optimisme supranatural, serta dorongan baru untuk perjuangan rohani setiap hari. Bahkan kunjungan ke makam-makam dalam bulan ini, yakni suatu kebiasaan saleh di banyak tempat, adalah kesempatan bagi kita untuk membantu teman-teman dalam kerasulan untuk merenungkan kebenaran abadi, dan mencari kehadiran Tuhan yang senantiasa mendampingi kita dan memanggil kita dengan kasih sayang-Nya sebagai seorang ayah.

Dengan kematian, waktu untuk berbuat baik dan memperoleh pahala di hadapan Allah berakhir, dan pengadilan jiwa setiap orang segera terjadi. Karena ini adalah suatu bagian dari iman Gereja bahwa ” Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan surgawi ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya  ” [7]

Fokus utama dari pengadilan ini adalah cinta kasih kita kepada Allah dan sesama, yang diwujudkan dalam memenuhi perintah Allah dan tugas-tugas hidup kita. Di zaman sekarang banyak orang yang menutup mata pada kenyataan ini seolah-olah dengan demikian mereka dapat menghindari pengadilan Allah (yang penuh belas kasih). Kita, anak-anak Allah “tidak perlu takut akan hidup atau mati,” kata St Josemaria. Jika hidup kita berjangkar dalam iman, jika kita menghadap kepada Tuhan dengan penuh penyesalan dalam Sakramen Tobat, setelah berdosa terhadap-Nya atau guna memurnikan ketidaksempurnaan kita; jika kita sering menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, tidak ada alasan bagi kita untuk takut akan saat ajal kita. Renungkan apa yang ditulis oleh Bapa Pendiri kita beberapa tahun yang lalu: “Aku tertawa senang mendengar engkau berbicara tentang “perhitungan” yang akan Tuhan minta darimu. Karena bagimu, Dia bukanlah hakim dalam arti yang sesungguhnya. Bagimu Dia adalah Yesus “. Kata-kata ini yang ditulis oleh seorang uskup yang suci, telah menghibur hati banyak orang yang mengalami kesulitan, dan juga dapat menghibur hatimu juga. ” [8]

Selain itu (hal ini sungguh-sungguh menggembirakan hati kita), bahkan setelah kematian Gereja tidak meninggalkan anak-anaknya. Dalam setiap Misa Kudus, Gereja berdoa, sebagai ibu yang baik, bagi jiwa-jiwa para umat yang telah, dan memohon agar mereka diterima dalam kemuliaan. Terutama pada bulan November, perhatian Gereja (pada jiwa-jiwa )membuat Gereja berdoa dengan lebih intens. Dalam Opus Dei, suatu”bagian kecil” dari Gereja, kita menyerukan dengan lantang keinginan Gereja itu, dengan memenuhi dengan penuh kasih dan syukur rekomendasi St Josemaría untuk minggu-minggu ini, yaitu mempersembahkan Kurban Misa Kudus dan Komuni Kudus bagi umat Opus Dei, anggota keluarga dan kooperator yang telah mendahului kita, dan untuk semua jiwa-jiwa di api penyucian. Tidakkah engkau menyadari bahwa merenungkan hal-hal terakhir bukannya membuat kita sedih, melainkan merupakan sumber sukacita supranatural? Dengan penuh kepercayaan kita menunggu panggilan definitif dari Allah dan penyempurnaan dunia di akhir jaman, bila Kristus akan datang kembali disertai oleh semua malaikat untuk menguasai Kerajaan-Nya. Setelah itu, akan terjadi kebangkitan seluruh umat manusia, pria dan wanita, yang pernah hidup di bumi, dari yang pertama sampai yang terakhir.

Katekismus Gereja Katolik   menunjukkan bahwa” Iman akan kebangkitan orang-orang mati sejak awal merupakan satu bagian hakiki dari iman Kristen.”[9]  Sejak awal Iman Kristiani akan kebangkitan menghadapi salah pengertian dan pertentangan. Pada umumnya orang berpendapat bahwa kehidupan pribadi manusia sesudah kematian bersifat rohani. Tetapi bagaimana orang dapat percaya bahwa tubuh ini yang nyata-nyata mati, akan bangkit lagi untuk kehidupan abadi? ” [10]  Dan inilah yang sebenarnya akan terjadi pada akhir zaman, karena kemahakuasaan Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam Credo Athanasius secara eksplisit: “semua orang akan bangkit kembali dengan tubuh mereka, dan harus memberi pertanggungan jawab atas perbuatan mereka masing-masing. Dan mereka yang telah berbuat baik akan masuk ke hidup yang kekal, dan mereka yang telah berbuat jahat akan masuk ke api yang kekal. ” [11]

Sungguh menakjubkan cinta kasih Allah Bapa. Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang terdiri dari jiwa dan raga, roh dan tubuh, dan bahwa kita akan kembali kepada-Nya dengan jiwa dan raga, untuk menikmati kebaikan, keindahan dan kebijaksanaan-Nya dalam hidup yang kekal. Oleh kehendak Allah yang tunggal, seorang makhluk telah mendahului kita dan bangkit dengan mulia: Santa Perawan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, yang diangkat ke kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Satu alasan lagi untuk harapan dan optimisme penuh kepercayaan!

Mari kita selalu mengingat janji-janji ilahi, yang tidak pernah gagal, terutama di saat-saat kita sedih, lelah, atau menderita. Hendaknya kita mencamkan bagaimana St Josemaría mengungkapkan hal-hal terakhir dalam khotbahnya di suatu kesempatan: “Tuhan, aku percaya bahwa aku akan bangkit lagi, aku percaya bahwa badanku akan bersatu kembali dengan jiwaku untuk hidup bersama Dikau selama-lamanya  berkat jasa-jasa Tuhan Yesus yang tiada batas, melalui perantaraan Bunda-Mu , karena kasih-Mu yang besar padaku. ” [12]  Saya sangat berharap kalian tidak menganggap surat ini bernada pesimis. Justru sebaliknya, hendaknya isi surat ini  mengingatkan kita bahwa pelukan Tuhan menanti kita, jika kita setia.

Setelah kebangkitan orang mati, pengadilan terakhir akan berlangsung. Tidak ada perubahan sehubungan dengan apa yang sudah diputuskan dalam pengadilan khusus, tetapi dalam pengadilan akhir  kita akan memahami arti yang terdalam dari seluruh karya ciptaan dan seluruh tata keselamatan dan akan mengerti jalan-jalan-Nya yang mengagumkan, di mana penyelenggaraan ilahi  membawa segala sesuatu menuju tujuannya yang terakhir. Pengadilan Terakhir, “sebagaimana disimpulkan oleh   Katekismus Gereja Katolik, ” akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidak-adilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cinta-Nya lebih besar dari kematian .” [13]

Tentu saja, tidak ada yang tahu kapan atau bagaimana sejarah akan berakhir, atau apa pun tentang pembaharuan dunia material yang akan menyertainya, hanya Penyelengaraan Ilahi yang tahu Tugas kita adalah selalu waspada karena, seperti yang telah Tuhan umumkan berkali-kali, sebab  kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. [14]

Dalam salah satu katekese tentang Syahadat, Paus Fransiskus menganjurkan: “semoga Pengadilan Terakhir tidak membuat kita takut: Pengadilan terakhir justru mendorong kita untuk hidup lebih baik sekarang ini. Allah menawarkan masa ini penuh dengan belas kasih dan kesabaran, supaya kita belajar mengenal Dia setiap hari dalam diri orang miskin dan hina. Mari kita berjuang demi kebaikan dan waspada dalam doa dan cinta. ” [15]  Renungan akan kebenaran abadi memperoleh sifat lebih supranatural  oleh  rasa takut yang suci, suatu karunia Roh Kudus yang mendorong kita, sebagaimana St Josemaría mengatakan, untuk membenci dosa dalam segala bentuknya, karena dosa adalah satu-satunya hal yang dapat menjauhkan kita dari rencana kerahiman Allah Bapa.

Putra-putriku, mari kita renungkan dalam-dalam kebenaran-kebenaran akhir. Dengan demikian harapan kita akan menjadi lebih besar; kita akan dipenuhi dengan optimisme dalam menghadapi kesulitan, dan kita akan bangkit lagi dari kejatuhan kecil kita, maupun yang tidak begitu kecil (Tuhan tidak akan menolak memberikan rahmat-Nya), dengan senantiasa mengingat kebahagiaan kekal yang Kristus janjikan, jika kita setia. ” Kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat dan orang kudus, dinamakan “surga”. Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif ” [16]

“Surga:Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata  dan tidak pernah didengar oleh telinga dan  tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semau itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya. Tidakkah wahyu Rasul Tuhan ini memberi engkau semangat untuk berjuang? ” [17]  Dan saya ingin menambahkan: Apakah kalian sering memikirkan tentang surga? Apakah kalian orang yang penuh dengan pengharapan, karena Tuhan mengasihi kalian dengan Cinta yang tiada batasnya? Mari kita mengangkat hati kita kepada Tritunggal Mahakudus yang senantiasa mendampingi kita.

Kalian tahu bahwa Bapa Paus menerima saya dalam audiensi pada tanggal 18 Oktober yang lalu. Betapa baik berada bersama dengan Bapa Paus! Bapa Paus mengungkapkan kasih sayang dan terima kasih kepada prelatur Opus Dei atas karya kerasulan yang dilaksanakan di seluruh dunia. Ini adalah satu alasan lagi bagi kita, putra dan putriku, untuk terus berdoa bagi Bapa Paus dan untuk intensinya serta bagi para pembantu beliau. Beberapa hari yang lalu kita membaca dalam Misa Kudus tentang Harun dan Hur yang menopang lengan Musa dari pagi sampai malam, sehingga pemimpin Israel itu dapat berdoa bagi bangsanya tanpa lelah. [18]  Tugas kita dan tugas semua umat Katolik adalah mendukung Bapa Paus, dengan doa dan matiraga kami, dalam memenuhi misi yang telah Kristus percayakan kepada beliau dalam Gereja.

Tanggal 22 yang akan datang adalah ulang tahun hari St Josemaría menemukan bunga mawar dari Rialp di dalam perjalanan melintasi pegunungan Pirinea. Dan itu adalah hari setelah pesta Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah. Bapa Pendiri kita menafsirkan ini sebagai tanda bahwa Allah di Surga menghendaki dia melanjutkan perjalanannya agar dapat meneruskan karya pelayanan imamatnya dengan bebas di daerah-daerah di mana kebebasan beragama dihormati: ini pun adalah suatu undangan dari Bunda Maria agar kita lebih sering menghadap kepadanya.

Terus berdoa untuk intensi-intensi saya.  Dan pada hari-hari ini berdoalah terutama bagi saudara-saudara yang akan menerima tahbisan diakonat pada tanggal 9. Marilah kita juga mempersiapkan diri untuk Hari Raya Kristus Raja dengan pengharapan dan optimisme yang akan kita peroleh dalam hati apabila kita merenungkan kebenaran-kebenaran abadi. Dan, marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas hari peringatan pengesahan Prelatur Opus Dei oleh Bapa Paus, pada tanggal 28.

Dengan penuh kasih sayang, saya memberkati kalian

+ Javier

Roma, 1 November , 2013

Catatan:

[1]   St Josemaría,   Kristus yang Berlalu, no.129.
[2]   Katekismus Gereja Katolik, no.988.
[3]   Phil   01:21 dan   2 Tim   02:11
[4]   Katekismus Gereja Katolik, no.1010
[5]   St Josemaría,   Jalan, no.739.
[6]   Paus Fransiskus, Pidato di Audiensi umum, 4 April 2013.
[7]   Katekismus Gereja Katolik, no.1022.
[8]   St Josemaría,   Jalan, no.168.
[9]   Katekismus Gereja Katolik, no.991.
[10]   Ibid., No.996.
[11]   Credo Athanasius atau   Quicumque, 38-39.
[12]   St Josemaría, Catatan diambil dari Renungan 13 Desember 1948.
[13]   Katekismus Gereja Katolik, no.1040.
[14]   Mt   25:13.
[15]   Paus Francis, Alamat di khalayak umum 24 April 2013.
[16]   Katekismus Gereja Katolik, no.1024.
[17]   St Josemaría,  Jalan, no.751.
[18]   Lihat   Kel   17:10-13

 

( Artikel ini dikutip langsung dari Website Resmi Opus Dei Indonesia > www.opusdei.co.id )

Tinggalkan komentar