Komersialisasi & Penyimpangan Tradisi Iman dari Perayaan Santa Claus / Sinterklas

Perayaan Santa Claus atau Sinterklas merupakan bagian yang kini tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Natal.
Namun, di banyak daerah dan negara, perayaan iman ini saat ini telah menyimpang dari tujuan awalnya dan cenderung mengaburkan arti Natal, yang berpusat pada kelahiran Putra Allah dalam diri Kanak-Kanak Yesus.
Santa Claus / Sinterklas telah menjadi tokoh komersil dan seringkali perayaannya di awal Desember telah menimbulkan berbagai dampak negatif lainnya, mulai dari kemacetan, pesta-pora, lahan bisnis, dll.

Karena itu, adalah tepat bagi kita untuk saat ini mencoba mengingat lagi siapa sebenarnya Santa Claus / Sinterklas, yang aslinya dalam Gereja Katolik dikenal sebagai Santo Nikolaus.

Bersama Gereja Katolik sedunia, setiap tanggal 6 Desember ( hari ini ), kita memperingati Santo Nikolaus dari Myra, Uskup dan Pengaku Iman.

Santo Nikolaus a.k.a Santa Claus / Sinterklas tidak pernah hidup di Kutub Utara.
Santo Nikolaus lahir pada tahun 300-an di Parara, Asia Kecil dari sebuah keluarga yang kaya raya. Sejak masa mudanya ia sangat menyukai cara hidup bertapa dan melayani umat. Ia kemudian menjadi seorang pastor/imam yang sangat disukai umat. Harta warisan dari orangtuanya dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan amal, terutama untuk menolong orang-orang miskin. Sebagai pastor/imam, ia pernah berziarah ke Tanah Suci. Sekembalinya dari Yerusalem, ia dipilih menjadi Uskup dari kota Myra dan berkedudukan di Lycia, Asia Kecil (sekarang: Turki).
Santo Nikolaus dikenal di mana-mana. Ia termasuk orang kudus yang paling populer, sehingga dijadikan pelindung banyak kota, propinsi, keuskupan dan gereja. Di kalangan Gereja Timur, ia dihormati sebagai pelindung para pelaut; sedangkan di Gereja Barat, ia dihormati sebagai pelindung anak-anak, dan pembantu para gadis miskin yang tidak mampu menyelenggarakan perkawinannya. Namun riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, selain bahwa ia dipilih menjadi Uskup kota Myra pada abad-4 yang berkedudukan di Lycia. Ia seorang uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang-orang yang tertindas dan para fakir miskin. Pada masa penganiayaan dan penyebaran ajaran-ajaran sesat, ia menguatkan iman umatnya dan melindungi mereka dari pengaruh ajaran-ajaran sesat.

Ketenaran namanya sebagai uskup melahirkan berbagai cerita sanjungan. Sangat banyak cerita yang menarik dan mengharukan. Salah satu cerita yang terkenal ialah cerita tentang tiga orang gadis yang diselamatkannya: konon ada seorang bapa tak mampu menyelenggarakan perkawinan ketiga orang anak gadisnya. Ia orang miskin. Karena itu ia berniat memasukkan ketiga putrinya itu ke tempat pelacuran. Hal ini didengar oleh Uskup Nikolaus. Pada suatu malam secara diam-diam Uskup Nikolas melemparkan tiga bongkah emas ke dalam kamar bapa itu. Dengan demikian selamatlah tiga puteri itu dari lembah dosa. Mereka kemudian dapat menikah secara terhormat.

Cerita yang lain berkaitan dengan kelaparan hebat yang dialami umatnya. Sewaktu Asia Kecil dilanda paceklik/kemarau panjang yang hebat, Nikolaus mondar-mandir ke daerah-daerah lain untuk minta bantuan bagi umatnya. Ia kembali dengan sebuah kapal yang sarat dengan muatan gandum dan buah-buahan. Namun, tanpa sepengetahuannya, beberapa penjahat yang dirasuki iblis bersembunyi dalam kantong-kantong gandum itu. Segera Nikolaus membuat tanda salib atas kantong-kantong itu dan seketika itu juga para penjahat hitam itu berbalik menjadi pembantunya yang setia.

Nikolaus adalah Santo Nasional & Pelindung Negara Rusia. Kisah tentang tertolongnya ketiga puteri di atas melahirkan tradisi yang melukiskan Santo Nikolaus sebagai penyayang anak-anak. Salah satu tradisi yang paling populer ialah tradisi pembagian hadiah kepada anak-anak pada waktu Pesta Natal oleh orangtuanya melalui ‘Sinterklas’. Tradisi ini diperkenalkan kepada umat Kristen Amerika oleh orang-orang Belanda Protestan, yang menobatkan Santo Nikolaus sebagai tukang sulap bernama Santa Claus. “Sinterklas”, yaitu hari pembagian hadiah kepada anak-anak yang dilakukan oleh seorang berpakaian uskup yang menguji pengetahuan agama anak-anak, tetapi ia membawa serta hamba hitam yang menghukum anak-anak nakal.

Santo Nikolaus meninggal dunia di Myra pada akhir abad-4, dan dimakamkan di Gereja Katedral Katolik di kota itu. Relikuinya kemudian dicuri orang pada tahun 1807. Sekarang relikui itu disemayamkan di sebuah Gereja Katolik di Bari, Italia.

Kalau kita hendak memperingati beliau, maka hendaknya kita merayakannya dengan melakukan karya pelayanan cintakasih kepada sesama, bukan dengan pesta-pora, konvoi kendaraan, menjadikannya lahan bisnis, dan berbagai penyimpangan lainnya.
Kita memperingati-nya dengan berusaha melihat & mencintai dan melayani Yesus dalam diri semua orang di sekitar kita.

View on Path

Tinggalkan komentar