Renungan Pesta Keluarga Kudus (dalam Oktaf Natal)

PESTA KELUARGA KUDUS (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Sirakh 3:3-7.14-17a

Mazmur Tanggapan – Mzm. 127: 1-2. 3. 4-5

Bacaan II – Kolose 3: 12-21

Bacaan Injil – Matius 2: 13-15. 19-23

KELUARGA KRISTIANI

Tanda Iman Yang Menimbulkan Perbantahan

Pesta Keluarga Kudus (Sancta Familia) dirayakan oleh Gereja Katolik pada hari Minggu sesudah Hari Raya Natal. Pesta ini adalah suatu perayaan iman akan Keluarga Kudus Nazaret (Yesus, Maria dan Yusuf), dimana Gereja melihat suatu keteladanan yang ideal akan bagaimana hidup suatu keluarga. Bacaan I hari ini, yakni Kitab Putra Sirakh, yang ditulis sekitar 200 tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus Kristus, memberikan suatu tatanan nilai dalam hidup berkeluarga. Kebesaran dan kebijaksanaan seseorang dilihat dari sikap hormat dan baktinya kepada orang tua, yang secara tidak langsung merupakan wujud dari hormat dan baktinya kepada Allah, dan pemenuhan perintah Allah yang ke-4 (Hormatilah Ibu Bapamu). Bahwa pada akhirnya, bakti dan hormat kepada orang tua ini akan mendatangkan kesukaan, jawaban atas setiap doa, serta pepulih atas segala dosa.

Bila kita berbicara mengenai keluarga yang ideal dengan segala tuntutan, kewajiban dan keutamaan dalam hidup berkeluarga, sekilas memang tiada bedanya antara Keluarga Kristiani dengan keluarga-keluarga non kristiani lainnya. Akan tetapi, dalam bacaan II, Rasul Paulus menunjukkan kepada kita panggilan keluarga kristiani yang membedakan kita dengan keluarga-keluarga dunia lainnya. Keluarga kristiani adalah keluarga yang mendasarkan hidup dan berpusat pada Kristus. Terang Kristuslah yang menjadi pedoman hidup keluarga, Roh-Nyalah yang menghidupi dan memenuhi keluarga dalam kasih Allah. Setiap anggota keluarga haruslah senantiasa mengenakan Kristus untuk bisa saling mengasihi, sebagaimana Kristus mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya.

Disinilah titik tolak Pesta Keluarga Kudus. Gereja mengajak kita untuk merayakan kehidupan Yesus, Maria dan Yusuf, karena dalam hidup Keluarga Kudus Nazaret, kita menemukan gambaran Keluarga Kristiani yang ideal, yang sejati. Hidup mereka adalah hidup yang senantiasa terbuka terhadap sapaan dan kehendak Allah. Ketaatan dan kasih mereka kepada Allah senantiasa ditunjukkan dalam hidup sehari-hari, yang sekalipun sederhana dan tersembunyi, tetapi memancarkan cahaya cintakasih yang menerangi seluruh dunia. Dalam kehidupan keluarga kudus yang sederhana ini kita melihat bagaimana Yesus, Putra Allah, menundukkan diri dalam hormat dan cinta bakti kepada orangtua-Nya, Maria dan Yusuf. Kita melihat ketaatan iman Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah, di tengah kegelapan iman akan segala janji-Nya. Kita melihat akan kebesaran hati dan kebapaan Yusuf, yang menjaga dan mencukupkan semua kebutuhan keluarganya, karena ketaatan dan cintanya kepada Allah.

Oleh karena itu, Pesta Keluarga Kudus ini bukanlah sekedar perayaan akan sebuah keluarga yang seolah tidak pernah melakukan suatu kesalahan di mata Tuhan, melainkan suatu perayaan iman akan sebuah keluarga yang tidak pernah meragukan cinta dan kesetiaan Tuhan, meskipun hidup yang mereka jalani setiap hari seolah-olah menunjukkan hal yang sebaliknya. Sebuah keluarga yang selalu memandang Tuhan dengan penuh cinta, membuka diri seluas-luasnya untuk dipenuhi kasih Allah dalam hidup mereka, sebuah keluarga yang senantiasa melangkah bersama Tuhan melalui semua badai pergumulan hidup, karena keyakinan bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan damai sejahtera. Itulah yang hendak ditunjukkan oleh Gereja Katolik dalam perayaan ini.

Bagaikan suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, demikianlah hidup Keluarga Kudus dilihat oleh dunia saat ini. Suatu tanda perbantahan di saat begitu banyak keluarga berhenti berjalan bersama karena keengganan untuk setia, untuk berharap, untuk mencintai sampai terluka. Suatu tanda perbantahan di saat begitu banyak anak terlahir dalam ketiadaan cinta dan dibuang oleh orang tuanya, di saat begitu banyak ibu membunuh anaknya sendiri melalui tindakan aborsi. Suatu tanda perbantahan di saat begitu banyak orang, institusi dan negara, dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, mencoba menyesatkan arti keluarga dan pernikahan yang suci, dengan mengesahkan berbagai bentuk persatuan yang melanggar hakekat dasar pernikahan antara pria dan wanita. Dalam situasi dunia semacam inilah, pesan Injil yang diwartakan oleh Gereja Katolik semakin bergema lewat Pesta Keluarga Kudus.

Hak asasi macam apa yang menyerukan kita untuk menghargai hidup, tetapi di sisi lain membolehkan kita untuk melenyapkan kehidupan, untuk membunuh darah daging sendiri? Hak asasi macam apa yang membuat definisi baru bahwa Pernikahan dapat dilangsungkan bukan hanya antara seorang pria dan seorang wanita saja? Hak asasi macam apa yang mencoba membenarkan bahwa keluarga tidak harus terdiri atas ibu, ayah dan anak? Kemajuan peradaban macam apa yang meniadakan peran keluarga dalam melahirkan dan membesarkan anak sebagai masa depan dunia, dan membiarkannya diambil-alih oleh teknologi genetika?

Pesta Keluarga Kudus merupakan suara Gereja untuk mengingatkan setiap keluarga kristiani agar setia pada panggilan luhurnya, dan tidak berkompromi dengan dunia yang semakin memalingkan wajahnya dari Tuhan. Kita dipanggil untuk meneladani hidup keluarga kudus, untuk membawa cahaya iman dan menghalau kegelapan dunia. Masa depan dunia, masa depan Gereja, ditentukan oleh keluarga. Jadilah keluarga yang hidup dalam kasih Allah, yang selalu bersekutu dalam doa, yang menjadikan Kristus sebagai pusat hidup. Dengan demikian, dari keluarga-keluarga kristiani yang sejati, akan terlahir putra-putri Gereja, sebagai tanda-tanda pengharapan dan sukacita, dimana karenanya kita berseru, “Imanuel – Allah beserta kita.” (fernando)

Pesta Kanak-Kanak Suci (28 Desember)

Di hari ke-4 dalam Oktaf Natal ini, bersama Gereja Katolik sedunia, kita juga merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci, Martir.

Raja Herodes, karena ketakutannya akan kelahiran Sang Raja Damai, Tuhan Yesus Kristus, memerintahkan pembunuhan puluhan bayi dgn usia 2 tahun ke bawah, dengan harapan dia bisa membunuh Putra Allah.

Akan tetapi, atas bisikan malaikat, Maria & Yusuf kemudian membawa Bayi Yesus mengungsi ke Mesir.

Puluhan bayi di Bethlehem ini dibunuh secara keji.
Mereka dihormati Gereja sebagai Martir.

Semoga Pesta Kanak-Kanak Suci ini mengingatkan kita akan darah para martir yg menjadi benih iman Gereja, serta akan kenyataan dunia saat ini, dimana setiap hari lebih dari 10.000 bayi dibunuh oleh Ibunya sendiri lewat tindakan aborsi.

“Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.” ~ Beata Ibu Teresa dari Calcutta, seorang biarawati Katolik yang suci.

View on Path

Heavenly Distraction

Rencana malam ini mo bikin renungan Natal buat website gw www.jalankecil.com , tapi dari tadi belom mulai2.

Gak sengaja pas buka notebook liat folder ensiklik dan surat apostolik Kepausan.
Ujung2nya, malah asyik membaca dan merenungkan “Deus Caritas Est”, “Spe Salvi”, serta sibuk corat-coret & merevisi Kitab Hukum Kanonik gw spy sesuai dengan update perubahan terbaru dari Tahta Suci.

Kayaknya, postingan renungan Natal harus ditunda besok.

View on Path

2 Bapa Suci bertemu, Paus Fransiskus mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI untuk mengucapkan Salam Natal

Paus Emeritus Benediktus XVI menerima kunjungan Paus Fransiskus di rumah peristirahatan beliau.

Paus Emeritus Benediktus XVI menerima kunjungan Paus Fransiskus di rumah peristirahatan beliau.

 

VATICAN CITY (AP) Hari Senin kemarin, Paus Fransiskus telah mengunjungi pendahulunya, Paus Emeritus Benediktus XVI, untuk saling mengucapkan salam Natal.

Foto yang dirilis oleh surat kabar Vatikan menunjukkan dua Bapa Suci ini, mengenakan jubah putih identik kecuali tambahan cape untuk Paus Fransiskus (untuk menandakan Paus yang sekarang bertahta), mereka mengobrol di ruang duduk di dalam rumah peristirahatan Paus Emeritus Benediktus XVI. Mereka juga berdoa bersama di kapel pribadi. Paus Emeritus Benediktus XVI terlihat berada dalam kondisi yang sehat, meskipun harus menggunakan tongkat untuk membantunya berdiri selama doa bersama.

Paus Emeritus Benediktus XVI kemudian mengajak Paus Fransiskus untuk duduk berbincang di ruang tamunya. Mereka saling mengucapkan Selamat Natal ditemani Karangan Adven yang keempat lilinnya sudag menyala semua.

Paus Emeritus Benediktus XVI kemudian mengajak Paus Fransiskus untuk duduk berbincang di ruang tamunya. Mereka saling mengucapkan Selamat Natal ditemani Karangan Adven yang keempat lilinnya sudag menyala semua.

 

 

Ini adalah pertama kalinya interior rumah peristirahatan Paus Emeritus Benediktus XVI ditampilkan untuk umum: Ruang duduk dan furnitur yang serba putih. Sebuah karangan bunga Adven dengan keempat lilin sudah menyala semua (tanda Natal sudah semakin dekat) terlihat menghiasi meja kopi.

Sejak Paus Emeritus Benediktus XVI mengundurkan diri pada bulan Februari, kedua Paus ini hanya pernah bertemu sekali di hadapan publik, untuk upacara resmi Vatikan pada bulan Juli. Mereka juga telah terkadang bertemu secara pribadi atau berbicara melalui telepon.

Kedua Bapa Suci ini juga menyempatkan diri untuk berdoa bersama bagi Gereja dan seluruh dunia di depan altar dari Kapel Pribadi Paus Emeritus.

Kedua Bapa Suci ini juga menyempatkan diri untuk berdoa bersama bagi Gereja dan seluruh dunia di depan altar dari Kapel Pribadi Paus Emeritus.

2 hari sebelum Natal, Paus Fransiskus menerima Prelat Opus Dei, Uskup Javier Echevarria

Paus Fransiskus berbincang dengan Mgr. Javier Echevarria, Prelat Opus Dei

Paus Fransiskus berbincang dengan Mgr. Javier Echevarria, Prelat Opus Dei


Dua hari sebelum Natal, pada hari Senin, 23 Desember pukul 11.30, Bapa Suci menerima Prelat Opus Dei, Uskup Javier Echevarría, dalam audiensi pribadi.

23 Desember 2013 Opus Dei – Prelat Opus Dei menyampaikan salam Natal-nya untuk Paus. Setelah audiensi, ia mengatakan bahwa “setiap kali anda menghabiskan waktu dengan Paus, anda selalu diteguhkan bahwa anda baru saja bertemu dengan seorang Bapa yang baik.”

Dan dia menambahkan: “Bapa Suci mendorong kita untuk melanjutkan karya kerasulan kita di semua negara dimana para anggota Prelatur Opus Dei berada dan tinggal. Secara khusus, Paus Fransiskus mendesak kita untuk menghasilkan buah berlimpah dalam kerasulan pengakuan dosa, yang merupakan Sakramen Belaskasih Tuhan.” Anggota Opus Dei diminta untuk mengajak sebanyak mungkin umat Katolik untuk semakin sering menerima Sakramen ini.

“Bapa Suci Paus Fransiskus juga memberikan berkat apostolik untuk semua anggota Opus Dei, baik imam maupun awam, dan secara khusus bagi mereka orang sakit.”

Bapa Suci Paus Fransiskus memberikan 2000 hadiah natal kepada para tunawisma

Paus Fransisku memberikan hadiah Natal kepada lebih dari 2000 imigran & pengungsi.

Paus Fransisku memberikan hadiah Natal kepada lebih dari 2000 imigran & pengungsi.

Roma, UCAN News – Dua ribu imigran di rumah penampungan “Dono di Maria” dekat Vatikan sangat senang menerima hadiah Natal dari Bapa Suci Paus Fransiskus. Menyambut Natal, Paus memberi mereka paket hadiah yang berguna untuk membantu mereka terhubung dengan keluarga selama musim liburan, termasuk kartu Natal yang ditandatangani oleh Sri Paus, perangko, kartu telepon internasional prabayar, dan free pass bus kota “Metro” Roma, demikian laporan Catholic News Agency (CNA).

Almoner Tahta Suci Vatikan, Uskup Agung Konrad Krajewski secara pribadi membantu para suster Misionaris Cintakasih (Missionaries of Charity) membagikan hadiah. Suster Michelle mengatakan pada CNA bahwa “para imigran menerima hadiah dengan kasih dan bersyukur atas kesempatan untuk menelepon dan menulis pada orang yang mereka cintai selama musim Natal.” Sebagai advokat bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan, Paus Fransiskus secara khusus berbicara atas nama imigran.

Pada Hari Migran dan Pengungsi Dunia pada bulan September, beliau mengecam perbudakan dan perdagangan manusia. “Migran dan pengungsi bukan bidak pada papan catur kemanusiaan,” kata Paus Fransiskus. “Mereka adalah anak-anak, wanita dan pria yang meninggalkan atau yang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena berbagai alasan, yang memiliki berbagai keinginan untuk mengetahui dan memiliki, tetapi di atas semua itu adalah keingina untuk menjadi lebih baik.” Rumah penampungan Dono di Maria didirikan oleh Beata Ibu Teresa dari Calcutta (Mother Teresa) 25 tahun lalu dan diberkati mendiang Paus Yohanes Paulus II.

Jelang Natal, Paus Fransiskus mengunjungi RS Anak untuk melakukan kunjungan pra-Natal bagi puluhan anak-anak di sebuah rumah sakit anak Katolik di Roma, Sabtu (22/12). Kegiatan ini adalah tradisi kepausan selama puluhan tahun. Berhenti di kapel rumah sakit, Paus diberi keranjang berisi pesan bertulisan tangan dari anak-anak. Kata Paus, “Terima kasih atas impian dan doa-doa yang telah kalian masukkan ke dalam keranjang ini,” demikian pernyataan Vatikan. “Mari kita percayakan mereka bersama-sama kepada Tuhan, yang mengetahui lebih dari siapa pun.” Menuju ke berbagai bangsal selama kunjungan hampir tiga jam, Paus berusia 77 tahun itu melambaikan tangan ke arah para fotografer, seraya berkata: “Saya di sini untuk para pasien.”

Rumah sakit milik Vatikan, Bambino Gesu (Bayi Yesus), adalah pusat penelitian pediatrik terbesar di Eropa, dengan 2.600 staf yang melayani sekitar 27.000 pasien setiap tahunnya.